Usung Onthel, Ronny Hartono Puncaki 13 Gunung!

July 15, 2013

Ronny1-370x285[1]

Luar biasa! Tak hanya mengusung ransel, Ronny Hartono turut memanggul sepeda onthel kesayangan saat mendaki gunung.

Hingga saat ini 13 puncak gunung berhasil ia jelajahi bersama onthel kesayangan yang ia beri nama Pertiwi Nusantara.

Ronny saat berkunjung ke SOLOPOS di Griya Solopos , Jl Adisucipto 190, Solo, Minggu (9/6/2013) mengungkapkan ke-13 gunung itu meliputi Gunung Gede Pangrango, Gunung Ceremai, Gunung Guntur di Jawa Barat.

Selain itu Gunung Slamet, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merbabu, Gunung Lawu di Jawa Tengah, Gunung Arjuno di Jawa Timur. Gunung Agung di Bali, Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat dan Gunung Kerinci pun sukses ia daki.

Bagi pria lajang yang merupakan anggota Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) itu 13 gunung belumlah cukup. Ronny bertekad memuncaki 17 gunung bersama Pertiwi Nusantara.

“Targetnya, sebelum 17 Agustus 2013, 17 puncak gunung.”

Ia yang akan memeringati hari ulang tahunnya ke-35 pada 17 Agustus itu ingin memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) karena itu merupakan “kado” yang ia impikan selama ini.

Lebih lanjut pria yang berdomisili di Kendal itu megutarakan saat mendaki gunung bersama onthel kesayangannya cuaca dan medan yang sulit adalah tantangan berat yang harus ia tahlukkan. Seperti yang ia lakoni pada 7 Juni 2013 saat menuju puncak Gunung Lawu di Jawa Tengah.

“Kemarin waktu pendakian ada kabut tebal dan track jalan cukup sulit untuk dilewati tapi meski begitu akhirnya sampai [puncak] juga dan pada 8 Juni sudah sampai ke bawah,” ungkapnya.

Ia menambahkan terkadang ia menunggangi onthel-nya saat menjumpai medan datar namun ia lebih sering mengusungnya.

Ronny mengaku saat mendaki gunung ia biasa berkoordinasi dengan pecinta alam di daerah yang ia kunjungi. Seperti saat mendaki Gunung Lawu, ia ditemani tiga anggota Anak Solo Pecinta Alam (Asuta) yakni Agus, UUk dan Bontos.

Di sisi lain cerita yang mengundang tawa tak luput tertoreh dalam kisah perjalanannya menyusuri puncak 13 gunung.

“Jadi saat sampai di puncak gunung banyak orang di situ ingin berfoto. Namun kadang bukan bersama saya karena mereka lebih ingin berfoto bersama onthel saya,” ungkapnya terbahak.

source: http://www.solopos.com/2013/06/09/usung-onthel-ronny-hartono-puncaki-13-gunung-413977


onthel + jaladara = duet maut

March 23, 2013

 

Jaladara, kereta uap berbahan bakar kayu yang sekarang digunakan untuk mendukung pariwisata kota Solo, kembali di-launching. kali ini onthel menjadi cucuk lampah launching Jaladara tersebut


onthel masuk mall :p

March 23, 2013

hehe, kali ini rekan onthelSOLO bawa onthel masuk mall, dan ga cuma di ttempat parkir saja tapi sampe lantai 3 Solo Grand Mall…kali ini berkesempatan pameran di sana, sekaligus sosialisasi bersepeda, dan aksi keselamatan berlalu-lintas, dan pre-event buat ulang tahunnya Solo Car Free Day. Bersama maskot keselamatan lalu lintasnya kota Solo Zebra Zetta.

 

semoga sepeda semakin diberi ruang di kota Solo, mari tetap bersepeda…solo dari ujung ke ujung dari timur ke barat kurang lebih hanya 10km, dari utara ke selatan kurang lebih 7km, digowes naik sepeda paling banter setengah jam…kalo mungkin, mari bersepeda…dengan bersepeda kita menghemat emisi bahan bakar fosil, hemat duit buat beli bensil, sehat, lebih cepet kalo lagi macet. yang jelas naik sepeda ga kalah keren dengan naik kendaraan bermotor…


echolocation untuk bersepeda

February 1, 2013

 

Mata adalah sesuatu yang kita andalkan saat mengendarai sepeda kita, Daniel Kish dari California mengendarai sepeda berdasarkan panduan suara. Daniel Kish, seorang tunanetra, pergi bersepeda di dalam kota maupun off road  dengan menggunakan metode yang disebut echolocation – yang secara efektif bekerja sebagai sonar. Sebagai wahana Kish sepeda sekitar dia membuat suara, dan pantulan suara tersebut yang kemudian digunakan sebagai penciptaan citra tiga dimensional, yang memungkinkan Kish untuk menciptakan citra lingkungannya. Sistem Kish memungkinkan dia untuk menggunakan telinganya sebagai matanya, mirip dengan kelelawar.


Sepeda Onthel Lawas Solo di acara Solo Luar Biasa

October 22, 2012

stand Sepeda Onthel Lawas Solo

 

Memeriahkan ulang tahun Solopos yang ke-15. Sepeda Onthel Lawas Solo ambil bagian dalam ajang temu komunitas bertajuk Solo Luar Biasa. Digelar di Manahan tanggal 21 Oktober 2012 sebagai puncak rangkaian acara peringatan ulang tahun Solopos. Dalam acara tersebut menampilkan 42 komunitas yang bertekad membuat Solo lebih kreatif dan luar biasa. Sepeda Onthel Lawas Solo, berhasil memperoleh predikat stand terbaik ke dua. Dengan setting ruang tamu jaman dulu dan dilengkapi informasi dan foto foto dokumentasi dari kegiatan komunitas Sepeda Onthel Lawas Solo. Maju terus…!!! Tetap kreatif untuk menjadi luar biasa…!!!


car free day(nya) jepara

June 18, 2012

foto foto diambil 17 juni 2012 di seputaran alun alun jepara


CAGAR BUDAYA: Anak Muda Pelihara Cagar Budaya

March 9, 2012

Selasa, 21/2/2012

Tjojoedan, sekarang Jl. Yos Sudarso 1937, Asia Maior
Sepeda menjadi saksi perjalanan waktu kota Solo

Belasan sepeda tua yang berjajar di depan gerbang Balaikota Solo tiap Sabtu malam itu belum seberapa banyak. Sekilas, para pemiliknya hanya bersantai di samping sepeda-sepedanya layaknya ratusan anak muda lain di sekitar mereka. Namun di balik itu, ada yang jauh lebih berarti bagi mereka di balik sepeda tua itu.

Sepeda tua bukan seperti sepeda fixie atau sepeda angin biasa. Bagi mereka, sepeda tua itu telah menjadi alat gerakan pelestarian sejumlah kawasan dan bangunan bersejarah yang terhampar di Kota Solo. Dengan sepeda tua, mereka mengajak orang untuk mengenal dan peduli bahwa kota ini punya ratusan jejak sejarah yang terlupakan.

“Selain bersenang-senang dengan sepeda tua, kita ingin mempromosikan kota. Kota ini punya banyak sekali tempat bersejarah, tapi banyak dari kita yang tidak kenal,” kata Dian Ariffianto Budi Susilo, arsitek yang selama ini dikenal sebagai Ketua Onthelis Solo, Sabtu (18/2/2012) malam.

Berawal dari kegemaran berjalan-jalan dengan sepeda, tercetuslah ide untuk ikut serta dalam pelestarian bangunan dan kawasan cagar budaya. Dengan sepeda tua, mereka menelusuri kota dan blusukan ke kawasan-kawasan tua. Di Solo, ada banyak objek yang biasa mereka kunjungi, mulai dari bangunan tua, museum, pasar-pasar tua, kampung batik, kampung-kampung perajin blangkon, sandal kulit hingga tak lupa mengunjungi kawasan bantaran sungai.

Saat berkunjung inilah mereka menemukan banyak hal. Berbincang dengan para penduduk setempat dan berbagai literatur membuat mereka bukan hanya tahu tentang sejarah, tapi juga masalah perkotaan yang kini mengancam. Misalnya bangunan-bangunan yang terancam rusak dimakan usia, kampung yang terdesak modernisasi dan terhimpitnya sepeda atau becak oleh kendaraan bermotor.

“Dalam pelestarian heritage, arahnya adalah sejarah, budaya dan transportasi,” ujar Dian. “Sepeda tua itu merekam sejarah. Mereka datang ke sini dibawa oleh orang kolonial dan mengenal teknologi sepeda jauh sebelum kita.”

Begitulah mimpi tentang kota tua dan sepeda itu berasal. Bukannya ingin mengembalikan kenangan lama, namun sepeda itu menjadi simbol pelestarian cagar budaya. Berbagai ritual pun dilakukan seperti bersepeda ke tempat-tempat tua, Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti dan bahkan makam Bonoloyo. Untuk melestarikan tradisi Jawa, mereka pun menggabungkannya dengan tradisi sepeda. Setiap tahun menjelang Suro, mereka melakukan ritual jamasan sepeda tua di depan Balaikota. Bukan bermaksud macam-macam, mereka hanya menunjukkan penghargaan pada sepeda tua yang bersejarah.

Aktivitas itu pelan-pelan dikenal luas oleh masyarakat di luar Solo. Melalui berbagai forum online, banyak pecinta jejak sejarah yang tertarik dengan aktivitas ini dan menyempatkan diri datang ke Solo. Salah satunya adalah tiga orang Belanda yang belum lama ini datang ke Solo. Para onthelis ini memang sudah menyiapkan “paket perjalanan” bagi orang Belanda tersebut berkeliling kota. Dengan naik sepeda, mereka diantar bersama ke berbagai pusat kesenian, kampung batik Laweyan, Kauman dan sebagainya.
“Jadi kita tunjukkan bahwa memelihara heritage itu simpel dan enggak berat.”

…………………………….

JIBI/SOLOPOS/Adib Muttaqin Asfar
Adib Muttaqin Asfar

sumber :

http://www.solopos.com/2012/lifestyle/fokus-lifestyle/cagar-budaya-anak-muda-pelihara-cagar-budaya-164299

juga bisa dilihat di

http://www.harianjogja.com/2012/lifestyle/fokus-lifestyle/cagar-budaya-anak-muda-pelihara-cagar-budaya-164299


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 104 other followers