kliping SOLO


Salam onthel….Kriiing….kriiiiiing……

Halaman ini adalah alamat kliping-kliping berita yang terkait dengan sepeda. Silakan tambahkan kliping yang anda temukan dalam comment anda. Jangan lupa tuliskan alamat sumber berita. Siapa tahu ada manfaatnya buat yang lain.

Terima kasih.

19 Responses to kliping SOLO

  1. solokomunitas says:

    Ayo Ngonthel Sama Towil

    Sabtu, 14 November 2009 | 06:03 WIB

    ANGAN-angan Towil (35) sederhana, yakni melihat banyak orang bersepeda sehingga polusi udara akan jauh terkurangi. Towil tahu itu angan-angan yang nyaris mustahil, namun dia tetap militan berjuang. Sepeda harus jadi moda transportasi terhormat.

    Towil, yang adalah Ketua Paguyuban Onthel Djogjakarta (Podjok) itu tak hanya sekadar mengoleksi 40 onthel, sepeda kuno buatan tahun 1960 ke bawah. Namun ia dan Podjok berkeliaran kemana-mana untuk menyuarakan bahwa bersepeda itu amat menarik dan perlu.

    Bersepeda jelas bukan imbauan yang populer, di tengah masifnya kendaraan bermotor memenuhi jalan. Siapa sih yang suka bersepeda, mengingat orang zaman sekarang tak betah capek dan berkeringat. Lebih enak naik motor, tinggal gas dan tak keringatan.

    “Tapi bagi saya, bersepeda itu sangat menyenangkan. Otak dan suasana hati bisa santai, tidak keburu-buru. Bisa melihat pemandangan, bisa melihat banyak hal karena laju sepeda pelan. Satu lagi, bersepeda itu salah satu cara menuju sehat,” ujarnya.

    Yogyakarta, mestinya bisa seperti dulu, saat masih menyandang kota sepeda. Memang, tiga-empat tahun terakhir ini, geliat bersepeda mulai terasa di Yogyakarta. Namun belum cukup untuk dijadikan klaim bahwa Yogyakarta sudah menjadi gudang sepeda.

    “Harus ada lebih banyak lagi orang yang naik sepeda. Nggak peduli yang dibeli masyarakat adalah sepeda onthel, sepeda gunung, sepeda jengki, atau sepeda mini. Harus ada banyak program sepeda santai dan kampanye bersepeda di mana-mana,” papar dia.

    Karena itu, ia dan Podjok gencar keluyuran mencari mangsa, untuk diracuni otaknya agar mau mengayuh pedal sepeda. Podjok rutin datang ke ajang sepeda santai, acara seremonial, hingga mengisi pameran. Gayung bersambut karena Pemerintah Kota Yogyakarta menggulirkan program Sego Segawe (Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe-sepeda untuk sekolah dan bekerja), akhir 2007 lalu.

    Gerakan bersepeda, pun, mulai tumbuh. Podjok pun terimbas, karena banyak diminta memeriahkan acara. Dalam kepemimpinannya Podjok meraih banyak penghargaan. Walau demikian, Towil tidak menganggap perjuangan sudah selesai. Ia tak mau bersepeda hanya sebatas menjadi tren yang suatu saat berakhir.

    Karenanya, ia bersemangat datang jika ada undangan dari komunitas sepeda, sekolah, atau bahkan dari ada pihak RT (rukun tetangga). Tanpa dibayar, Towil pun datang. Ia pun dengan senang hati meminjamkan koleksinya ke pihak lain untuk dipamerkan. Yang ingin melihat koleksinya dan mencicipi onthelnya, boleh mendatangi rumahnya di Dusun Bantar Desa Banguncpto, Sentolo, Kulon Progo.

    Sepertinya saya jadi pejuang sepeda, hahahaha. Tapi nggak apa-apa kan jika setiap ketemu saya, tema obrolannya sepeda. Ketika saya tahu orang itu lalu membuat komunitas bersepeda, atau mulai menyentuh sepeda, itu sudah kabar menggembirakan, ujar Towil yang tiap hari menggenjot sepeda, minimal melaju 2 km mengantar buah hatinya yang berusia 6 tahun pergi ke sekolah.

    Apakah dia pernah tertabrak saat bersepeda? “Ya pernah lah, walau sekali. Saat itu saya muter di kompleks Universitas Gadjah Mada (UGM), eh tiba-tiba ada mobil nabrak dari depan. Untung saya hanya lecet-lecet, tapi kagetnya itu lho, lha wong lagi enak-enaknya ngepit disundul dari depan,” paparnya.

    Towil paling jengkel jika diklakson dan hampir kepepet mobil dan motor, walau pun sepedanya sudah seminggir mungkin. Parahnya, itulah yang kerap menimpa para pengendara sepeda. Di Yogya yang daerah sepeda pun, sepeda belum dihargai pengguna jalan yang lain. “Menyedihkan, memprihatinkan,” ujar dia.

    Mimpi

    Bagi Towil, bisa mempunyai sepeda onthel satu biji pun, dulu seperti mimpi. “Saya naik sepeda sejak SD di Boyolali. Untuk main dan sekolah, selalu naik sepeda. Di jalan sering saya melihat orang bersepeda onthel. Keren banget mereka. Naik sepeda onthel lebih keren ketimbang naik motor,” katanya.

    Cita-cita lelaki kelahiran Boyolali 16 November 1973 ini baru tercapai tahun 2000. Sepeda merek Raleigh buatan Inggris tahun 1940 sukses dibawa pulang setelah ditebus Rp 800.000 dari si pemilik. Saat itu ia belum terjun ke dunia pit onthel, karena masih menekuni usaha kerajinan (handycraft) sebagai agen.

    Riwayat pekerjaan Towil cukup berliku. Ia pernah bekerja serabutan di sebuah restoran di Yogyakarta, menjadi karyawan toko obat yang membuka konter di sebuah hotel di Yogyakarta, hingga menjadi agen di usaha handycraft. Yang terakhir ini bahkan ditekuni 15 tahun.

    “Panggilan saya dulu Towil Handycraft. Sekarang jadi Towil Onthel, atau Towil Podjok, hehehe. Sampai sekarang masih banyak teman saya bertanya: Ini Towil yang Towil Handycraft atau bukan? Saya jawab iya. Beberapa dari mereka sulit percaya,” ujarnya.

    Dampak dari bekerja di hotel dan di sektor handycraft membuat Towil dipaksa dan terpaksa belajar Bahasa Inggris. Keahliannya itu ternyata berguna di kemudian hari. Sekarang Towil go internasional , misalnya dalam berburu sepeda, ia sudah menumpuk relasi. Banyak koleksinya yang didapat dari kolektor di Belanda.

    Laki-laki yang menamatkan studi di SD Muhammadiyah Boyolali, SMP Muhammadiyah 10 Boyolali dan SMA Muhammadiyah Boyolali ini mengatakan, hobinya diselaraskan dengan mencari uang. Jika cocok harganya, sepeda saya lepas. “Tapi ada beberapa yang mungkin tidak akan saya lepas, misalnya Swiss Army, hehehehe,” ujarnya.

    Pekerjaan lain Towil sekarang adalah pemandu turis asing yang ingin menjelajah pedesaan. Lokasi rumahnya yang masih pedesaan, sangat mendukung. Turis-turis itu pun diajak berkeliling desa naik onthel. Kalau nggak mau naik onthel, Towil juga punya sepeda gunung dan sepeda jengki. Towil menikmati apa yang dijalani sekarang.

    “Saya hanya mencoba menikmati hidup seperti orang bersepeda. Pelan-pelan tapi maju ke depan. Hidup itu dinikmati, jangan terburu-buru. Kekuatan bersepeda kan menunjukkan kekuatan manusia. Kalau jalan mendaki dan berat ya sepeda dituntun. Intinya hidup itu adalah mengukur kekuatan diri,” kata suami dari Rustina (26) dan bapak dari Malio Yudhistira (6). (Lukas Adi Prasetya)

    sumber:

    http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/14/06034192/ayo.ngonthel.sama.towil

  2. solokomunitas says:

    Onthel Jepang, Dulu Murah, Kini Langka

    Kamis, 3 Desember 2009 | 07:47 WIB

    YOGYAKARTA, KOMPAS.com- Sepeda onthel atau sepeda kuno buatan Jepang lebih susah dijumpai ketimbang onthel buatan negara Eropa. Kondisi itu ditengarai karena dulu onthel Jepang kalah pasaran dan kalah gengsi daripada onthel Eropa. Kualitas onthel Jepang pun tak sebagus Eropa.

    Ngatidjo (60), pengamat onthel yang juga pemilik bengkel sepeda di Jalan Wates Km 3,5 mengatakan, onthel-onthel Jepang masuk tahun 1958-1960. Saat itu harga yang ditawarkan, juga suku cadangnya, jauh lebih murah daripada onthel buatan Eropa.

    “Satu onthel bikinan Eropa kira-kira harganya sebanding dengan dua hingga tiga onthel Jepang. Tapi, masyarakat, terutama di Jawa, sudah telanjur fanatik dan percaya dengan kualitas onthel buatan Belanda atau Inggris,” ujarnya, Rabu (2/12).

    Harga onthel Eropa yang mulai turun membuat masyarakat punya kemampuan membeli, walau hanya onthel level medium dan bawah. Onthel Jepang menjadi minim peminat. Namun, seingat Ngatidjo yang mbengkel sejak 1968 ini, dulu, banyak masyarakat, terutama petani, mengendarai onthel Jepang.

    Onthel Eropa yang paling murah pun, hanya bisa terjangkau oleh petani kelas menengah ke atas. Petani kelas bawah ya tidak bisa membeli. “Nah, ketika onthel-onthel Jepang menyerbu, petani kelas bawah itu akhirnya bisa membeli,” paparnya.

    Namun, seiring waktu, pandangan masyarakat tidak salah. Tahun 1990-an, onthel-onthel Jepang mulai jarang terlihat. Saat itu Ngatidjo sering menangani onthel Jepang dan melihat pemiliknya mulai menganggap onthel Jepang cepat rusak dan kurang tangguh. Nasib onthel Jepang pun, banyak berakhir sebagai besi tua.

    Namun, aksesoris onthel Jepang seperti stang, standar, boncengan, masih bertahan di pasaran dan kini banyak disematkan di onthel Eropa. Masyarakat mulai melirik sepeda jengki buatan China. Onthel Jepang yang tersisa kini biasanya dipakai petani.

    Jepang getol memproduksi sepeda usai Perang Dunia II. Mengutip buku Pit Onthel terbitan Bentara Budaya Yogyakarta tahun 1953, Jepang mempunyai 90 merek. Misalnya, Silk, Yamaguchi, Vanco, Mollis, Radiant, Boeroeng, Diamond, Asia Bike, Zebra, Policy, Fuji, Marue, Club, Lyra, Mayam, Rabbit, dan Shimano. “Ada juga merek The Mister yang boncengannya khas (bermerek Miyata),” ujarnya.

    Ditambahkan Ngatidjo, sama seperti onthel Eropa, onthel Jepang juga terbagi dalam beberapa kelas berdasarkan harga dan tingkat kenyamanan.

    Shimano menjadi Merek asal Jepang yang terakhir dan paling lama bertahan, tapi sekarang beralih ke produksi aksesoris seperti persneling dan rem yang banyak dipakai sepeda gunung.

    Onthel Jepang sebenarnya tidak jelek-jelek amat, tapi memang sekelas di bawah onthel Eropa, baik dari bahan maupun kenyamanan. Masih ada onthel Jepang yang dipakai petani untuk angkut-angkut menunjukkan onthel Jepang pun sebenarnya cukup kuat.

    “Sebagian onthel Jepang yang terawat, sejauh yang saya amati, sebenarnya masih nyaman dikendarai, bahkan bisa lebih nyaman ketimbang onthel Eropa. Tapi memang, harga onthel Jepang, belum bisa setara onthel Eropa,” papar Ngatidjo.

    Ketua Paguyuban Onthel Djogjakarta (Podjok) Towil memperkirakan, surutnya onthel Belanda dan Jepang di Indonesia, juga sepeda bikinan China yang sejak 1970-an sukses menggusur onthel, tak lepas dari kebijakan pemerintah. “Onthel Eropa kini tak dijual. Padahal Gazelle sampai sekarang masih dibuat,” ujarnya.

    sumber:

    http://regional.kompas.com/read/xml/2009/12/03/07474315/onthel.jepang.dulu.murah.kini.langka

  3. solokomunitas says:

    Yuk Nonton Pameran Sepeda Onthel Tua Bangka

    Jumat, 26 Juni 2009 | 16:24 WIB

    JAKARTA, KOMPAS.com — Sepeda onthel, mesin tik, radio, dan poster kuno, serta sejumlah foto Jakarta ketika masih bernama Batavia memeriahkan acara “Betawi Tempo Doeloe”, yang digelar di Pusat Perbelanjaan Thamrin City, Jakarta, Jumat (26/6).

    Manajer Iklan dan Promosi Thamrin City Deisi Lomban mengatakan, tema “Betawi Tempo Doeloe” yang berlangsung 20 Juni hingga 5 Juli 2009 itu diangkat dalam rangka menyambut HUT DKI Jakarta ke-482.

    Ia mengatakan selain itu untuk menyosialisasikan perubahan nama Jakarta City Center (JaCC) menjadi Thamrin City.

    “Dengan nama Thamrin yang merupakan tokoh nasional asal Betawi, kami berkomitmen untuk mengangkat kebudayaan Betawi menjadi ciri khas pusat perbelanjaan ini,” kata Deisi.

    Sebanyak lima sepeda onthel buatan Jerman, Inggris, dan Belanda menarik perhatian sejumlah pengunjung yang melihat bahkan mencoba bel sepeda yang ternyata masih berfungsi.

    Kelima sepeda itu ialah sepeda Kruisframe, yaitu sepeda buatan Belanda tahun 1942 yang biasa digunakan para bangsawan Belanda karena modelnya unik.

    Kemudian ada pula sepeda Omafiets buatan Inggris tahun 1962, biasa digunakan anak-anak, sepeda Mountfiets buatan Jerman dengan tahun perakitan 1951, sepeda itu mempunyai konstruksi garpu dan sistem per, biasa digunakan untuk daerah tanjakan.

    Sepeda pos Falter buatan Jerman barat juga dipamerkan dalam pameran tersebut. Awalnya, sepeda itu didesain untuk sepeda pengangkut barang, kemudian kerap digunakan pegawai pos dan giro Indonesia sehingga dikenal sebagai sepeda pos.

    Selain itu terdapat pula sepeda Herenfeits, digunakan untuk mengantarkan susu. Dalam pameran tersebut, sepeda ini dilengkapi tas yang dipenuhi replika botol-botol susu.

    Selain sepeda, ada juga sejumlah koleksi antik Bung Hatta yang dipinjam dari Hotel Majapahit. Koleksi tersebut adalah mesin tik kuno dengan merk Underwood, telepon yang masih menggunakan putaran nomor, serta radio yang mempunyai gelombang SW, MW, OM, dan OC dengan bentuk meja berkaki empat.

    Beberapa poster iklan zaman dulu juga membawa pengunjung untuk melihat kembali bagaimana orang dulu mengiklankan produk. Terdapat poster iklan kecantikan produk Vinolia bergambar perempuan keturunan Belanda tersenyum ditambah slogan Tjantik Menarik.

    Ada pula poster iklan penjualan kerudung dari Yogya yang memuat harga-harga kerudung sulam dengan harga 1,35 hingga 2,5 franc. Selain itu, terdapat poster iklan penjualan emas dengan kata-kata jaminan, seperti “tidak loentoer selamanja”, “tjahja seperti emas toelen”, dan “tidak acc wang kembali”.

    Sekitar 35 foto beberapa wilayah Jakarta di zaman dahulu dipinjam dari Museum Sejarah Jakarta untuk menghiasi dinding-dinding pusat perbelanjaan. Adapun wilayah Jakarta tempo dulu yang tampak antara lain Passer Baroe, Hotel Den Nederlander yang kini menjadi Bina Graha, Pasar Ikan, dan Kali Besar.

    Salah satu pengunjung pameran, Viko, mengaku senang dengan adanya pameran “Betawi Tempo Doeloe” tersebut. “Tapi kayaknya koleksinya kurang banyak,” kata Viko.

    Namun, Viko mengaku salut dengan semangat membawa suasana Betawi tempo dulu ke pusat perbelanjaan. Puncak acara “Betawi Tempo Doeloe” berlangsung pada 27 dan 28 Juni 2009 dengan diisi festival kesenian Betawi, penampilan band, dan sunatan massal.

    Mengenai koleksi yang tidak begitu banyak ditampilkan, Deisi Lomban mengaku hal itu disebabkan barang-barang yang dipamerkan merupakan milik pribadi kolektor.

    sumber:

    http://regional.kompas.com/read/xml/2009/06/26/16242740/yuk.nonton.pameran.sepeda.onthel.tua.bangka

  4. solokomunitas says:

    http://202.146.5.33/kompas-cetak/0712/07/jateng/63608.htm

    Sepeda dan Rusaknya Jalur Lambat di Kota Solo

    Anjuran Presiden agar kepala daerah memberikan jalur khusus atau bike line kepada pengguna sepeda layak diapresiasi positif di tengah beban emisi udara yang semakin tinggi. Mungkin ini satu solusi penting menuju kota dengan perencanaan sistem transportasi dan manajemen lalu lintas yang hemat energi.

    Pada 27 Agustus 2005, di Jakarta pernah dilakukan deklarasi oleh komunitas sepeda, bike to work Indonesia. Mereka menyerukan penggunaan sepeda sebagai alat transportasi yang ramah lingkungan, mengurangi kemacetan dan polusi udara. Aktivitas komunitas ini terus berkembang dan menjalar ke beberapa kota lain.

    Seruan lain datang dari beberapa kepala daerah ketika terjadi krisis bahan bakar minyak yang lalu, tapi ternyata seruan itu hilang dan komitmen kepala daerah untuk bersepeda di hari tertentu juga dilupakan. Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo juga pernah bersepeda keliling kota dengan tajuk “Mider Kota”. Namun, sekarang kita tidak lagi mendengar kegiatan yang dilakukan setiap hari Jumat tersebut.

    Di Solo, jumlah pemakai sepeda kayuh sebenarnya cukup besar. Mereka memilih bersepeda karena ingin menghemat biaya serta banyak teman kerja mereka yang bersepeda. Pada jam-jam tertentu pengguna sepeda berjalan beriringan menuju luar kota. Mereka tidak berdaya harus menyelinap di antara debu dan asap knalpot serta berebut jalur dengan pengguna alat transportasi bermesin. Jumlah pengguna sepeda kayuh dari dalam kota juga banyak. Mereka adalah bagian komunitas yang mendorong pertumbuhan ekonomi perkotaan. Sebenarnya mereka layak mendapatkan fasilitas jalur khusus.

    Pengguna sepeda mengalami apa yang disebut sebagai peminggiran fasilitas infrastruktur. Seharusnya terdapat jalur sepeda/ jalur lambat yang sama bagusnya dengan jalur utama. Kalaupun ada jalur lambat, biasanya jalur itu rusak, berlubang, tidak rata, dan harus berebut dengan pedagang kaki lima (PKL), tukang parkir, atau jalur lambat yang tidak tersambung (terputus-putus).

    Di Kota Solo terdapat lima titik jalur lambat yang hampir semua rusak dan tidak terurus. Kelima jalur itu adalah di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, di salah satu sisi Jalan Rajiman, Jalan Adi Sucipto, Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Kolonel Sutarto, dan Jalan Ir Sutami.

    Misalnya di Kerten, dari jembatan Kleco hingga Purwosari terdapat jalur lambat yang ditinggikan di beberapa tempat sehingga jalanan menjadi bergelombang. Bahkan ada yang digunakan sebagai lahan parkir sebuah pusat perbelanjaan. Ini kontradiktif bila kita menyusuri jalur yang sama ke arah timur yang saat ini sedang dibangun menjadi kawasan pedestrian atau city walk. Di Jalan Ir Sutami kita menemukan kasus yang hampir sama, jalanan berlubang dan terputus di beberapa tempat, bahkan aspalnya terkelupas. Padahal, jalur ini penting bagi pengguna sepeda yang menuju arah timur.

    Kondisi jalan yang tidak rata dan terputus-putus bukan saja tidak nyaman dilalui, tapi juga berbahaya. Tidak kalah berbahayanya bila mereka harus membaur di antara pengguna kendaraan bermotor di jalur utama. Bukan saja membahayakan bagi mereka, pengguna sepeda kayuh, tapi juga bagi pengguna jalan lain.

    NURUL KHAWARI Peneliti Jatisalam RT 20/RW 06 Kateguhan, Sawit, Boyolali

  5. solokomunitas says:

    http://www.solopos.com/2009/feature/parkir-gunakan-jalur-lambat-6720

    Foto : Parkir gunakan jalur lambat

    Puluhan sepeda motor terparkir di jalur lambat Jalan Slamet Riyadi (depan Hotel Best Western) Solo, Kamis (22/10). Kondisi itu memakan separuh badan jalan sehingga jalan menjadi sempit.
    Espos/Ratna Puspita Dewi

  6. dian@SOLO says:

    MAKAM PEJUANG–Anggota Sepeda Onthel Lawas Solo melakukan ziarah ke makam pejuang yang ada di Pemakaman Umum Bonoloyo, Solo, Senin (17/8). Ziarah dilakukan dalam rangka peringatan HUT ke 64 Kemerdekaan RI. Espos/Agoes Rudianto

    sumber:

    http://www.solopos.com/2009/feature/kunjungi-makam-pejuang-3189

  7. dian@SOLO says:

    Keliling Amsterdam, Teringat Bandung…
    Senin, 1 Februari 2010 | 15:12 WIB

    KOMPAS.com – Menyusuri kota Amsterdam, Belanda, sama halnya menziarahi tanah kelahiran bangsa yang pernah menduduki dan membangun infrastruktur jalan dan bangunan di Indonesia pada masa lalu. Di Indonesia, karya-karya arsitek Belanda terkenal berkualitas baik dan awet.

    Lihat saja jalan dan jembatan buatan Belanda. Masih bisa kita manfaatkan hingga kini. Bagaimana di Belanda sendiri? Inilah antara lain yang membuat banyak orang ingin tahu. Hingga kini Belanda memiliki jaringan jalan, rel, dan kereta api yang berkualitas.

    Naik kereta api di Belanda juga jauh lebih nikmat dibanding di negeri kita meski copetnya sama-sama banyak. Jika penumpang kereta di Indonesia sulit berbicara satu sama lain karena suara yang berisik, di Belanda bisikan penumpang bisa terdengar penumpang lain yang duduk di bangku seberang dan belakang

    Itu sebabnya, banyak orang Indonesia yang berkunjung ke Belanda ingin mencoba naik kereta. ”Rasanya enak sekali. Kursinya empuk. Serasa naik pesawat terbang,” kata Endah Mardihastuti, Direktur Eksekutif Indonesian Spa Professional Association, Jakarta, yang melakukan perjalanan dengan kereta api dari Utrecht menuju Amsterdam, pertengahan Januari lalu.

    Endah bukan satu-satunya delegasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI di Vakantiebeurs 2010, pekan promosi terbesar di Utrecht (12-17 Januari) yang hari itu mencoba naik kereta. Ika Widianingsih, penyanyi dan pemain angklung dari Bandung, juga merasakan kereta yang sama. Semua memuji kereta Belanda.

    Sambungan rel tidak terasa di badan penumpang saat kereta melaju kencang di atasnya, sedangkan di Indonesia kereta api terasa kasar, tidak enak, berisik. Suara trutuk-trutuk-trutuk terasa keras sehingga penumpang pun sulit tidur, padahal sama-sama rel desain orang Belanda.

    Semua transportasi umum bermuara di Stasiun Pusat (Central Station). Dari Central Station, semua moda angkutan terkoneksi, mulai dari trem, bus, hingga kereta api. Semua jurusan ada, bahkan antarnegara pun tersedia. Pelayanan angkutan umum yang nyaman membuat masyarakat setempat suka menggunakan angkutan umum seperti kereta api, trem, dan bus.

    ”Di sini untuk parkir mobil pribadi sulitnya minta ampun. Tarif parkirnya juga mahal,” kata M Jusuf Sokartara (66), warga Belanda kelahiran Brastagi, Sumatera Utara, yang berputar-putar sekitar stasiun KA Utrecht untuk mencari tempat parkir mobilnya.

    Ada cara lain bertransportasi sangat irit dan efektif. Cara satu ini adalah bersepeda seperti yang ditempuh oleh banyak warga Belanda. Hampir di jalan terdengar suara bel sepeda untuk minta jalan. Ribuan warga Amsterdam, Utrecht, dan kota-kota lain menggunakan sepeda untuk kerja dan bersekolah. Bahkan pejabat-pejabat kantor wali kota, termasuk wali kotanya di Den Haag, ngothel dengan sepeda menuju kantor.

    Lapangan parkir di mana-mana penuh sepeda. Tidak ada sepeda motor yang tampak di lapangan parkir. Rata-rata sepeda yang mereka gunakan sepeda onthel, model dames (perempuan) dan laki-laki (batangan) seperti sepeda kuno yang banyak dikoleksi orang Jakarta dan Yogyakarta.

    Tetapi tidak ada orang Indonesia yang mencoba naik sepeda walaupun di stasiun kereta tersedia sepeda sewaan. Persoalannya, pertengahan Januari lalu daratan Belanda sedang tertutup salju.

    Banyak ruas jalan yang menjadi licin. Berjalan kaki saja kalau tidak berhati-hati terpelanting karena salju, apalagi bersepeda. Berbeda dengan orang Belanda. Mereka tetap bersepeda walaupun jalan berlapis salju. ”Kres-kres-kres,” bunyi ban sepeda yang meretas salju.

    Bangunan yang mirip

    Amsterdam, Jakarta, Bandung, dan Surabaya memiliki kemiripan dalam arsitektur bangunan, terutama bangunan yang didirikan pada zaman kolonial Belanda, seperti bangunan stasiun kereta api. Art deco adalah ciri arsitektur yang paling tampak pada bangunan-bangunan itu.

    Cara merawat bangunan tua di Amsterdam dan kota-kota lain di Belanda, bahkan di kota negara tetangga seperti Brussel, Belgia, patut diacungi jempol. Begitu pula kebersihan lingkungan di sekitarnya. Tidak terlihat bangunan tua yang kusam, seperti yang banyak terlihat di kawasan Kota Tua Jakarta.

    ”Mereka sadar sekali akan kota wisata. Jutaan wisatawan asing datang kemari tiap tahun,” kata P.LE. Priatna, Minister Counsellor Kedutaan Besar RI untuk Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa saat mengajak keliling Kompas untuk melihat bangunan-bangunan abad ke-17 di sekitar Alun-alun Kota Brussel, Grand-Place (Grote Markt), yang paling banyak dikunjungi wisatawan asing. Belanda-Belgia merupakan negara yang berbatasan langsung dan bisa ditempuh dalam waktu dua jam.

    Banyak wisatawan asing yang masuk Belanda langsung singgah ke Belgia. Ditunjang jalan yang mulus dan perjalanan antarnegara tanpa visa, membuat wisatawan asing mudah mondar-mandir ke kedua negara itu.

    Di Indonesia, sebenarnya banyak bangunan yang mirip dengan bangunan tua di Amsterdam. Boleh jadi kemiripan ini karena adanya satu kesamaan bangsa arsiteknya, yaitu bangsa Belanda. Sejarah membuktikan Prof Ir Charles Proper (CP) Wolff Schoemaker, arsitek berdarah Belanda, bersama teman-temannya, seperti Thomas Karsten dan Henri Mc Laine Pont, pernah tinggal di Indonesia.

    Schoemaker yang pernah menjadi dosen Presiden RI Soekarno di ITB itu terlahir di Banyubiru, Ambarawa, Jawa Tengah, tahun 1882, dan meninggal di Bandung pada tahun 1949. Makamnya berada di kompleks Taman Pemakaman Umum (TPU) Kristen Pandu, Bandung, yang sering dikunjungi wisatawan Belanda.

    CJ van Dullemen, sejarahwan seni dari Universitas Leiden, Belanda, yang pernah meneliti kehidupan Schoemaker dan jejak karya-karya rancangannya, mengatakan, di Indonesia terdapat sekitar 68 gedung hasil rancangan CP Wolff Schoemaker. Sebagian besar gedung-gedung itu berada di Bandung, salah satunya hotel berbintang lima Grand Hotel Preanger. Lainnya berada di Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

    Banyaknya peninggalan Belanda rupanya menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan Belanda. Mereka ingin melihat kehebatan karya bangsa mereka atau mungkin bahkan nenek moyang mereka. Inilah yang dikatakan Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI Sapta Nirwandar bahwa Indonesia-Belanda punya ikatan historis.

    Umumnya mereka (warga Belanda) suka melakukan perjalanan menempuh jalan darat, mulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. ”Mereka sambil melihat bangunan cagar budaya, jalan, dan perusahaan-perusahaan perkebunan peninggalan Belanda,” kata Achmad Sufyani, Direktur Panorama Destination, Jakarta, yang banyak melayani wisata orang-orang Belanda.

    Menurut Sufyani, perusahaannya melayani turis Belanda rata-rata 10.000 orang per tahun. Wisatawan itu kiriman dari FOX Vakanties, perusahaan travel besar di Belanda. CEO FOX Vakanties Marten de Ruiter yang ditemui Kompas membenarkan hal itu. Bahkan FOX menargetkan tahun ini bisa mengirim 20.000 wisatawan Belanda ke Indonesia.

    Pasar Belanda dalam penawaran wisata ke Indonesia merupakan peluang yang sangat menjanjikan karena 10 persen (1,6 juta) dari 16,7 juta penduduk Belanda mempunyai ikatan historis dengan Indonesia.

    Wisatawan Belanda yang berkunjung ke Indonesia tahun 2008 sebanyak 141.202 orang. Dan, tahun 2009 mulai Januari hingga November sekitar 132.184 orang. (M Nasir)

    sumber :

    http://travel.kompas.com/read/2010/02/01/15121859/Keliling.Amsterdam..Teringat.Bandung…

  8. dian@SOLO says:

    Sepeda Onthel Lawas Solo Bersepeda dengan Pakaian Unik
    Senin, 01/02/2010 11:00 WIB – Rani Setianingrum

    Berkeliling kota dengan menggunakan pakaian yang lain dari biasnya tentu saja sangat menarik dan akan menimbulkan suasana baru. Hal inilah yang dilakukan oleh komunitas Sepeda Onthel Lawas Solo (SOLO). ”Kami memang sering menggunakan kostum-kostum yang antik ketika sedang berkeliling Kota Solo dengan menggunakan sepeda,” ungkap Dian Arifiyanto BS, Ketua Sepeda Onthel Lawas Solo kepada Joglosemar, Kamis (28/1).

    Pemakaian kostum yang beragam tesebut bukan tanpa maksud dan tujuan. Pemakaian kostum unik itu dimaksudkan supaya tercipta suasana baru. ”Dengan menggunakan kostum yang beragam ketika bersepeda, kami ingin mencari suasana baru kan setiap orang menginginkan adanya perubahan dalam dirinya jadi kami mengimplementasikannya dengan kostum ini. Seperti saya sendiri contohnya saya saat ini memiliki banyak kostum mulai petani, menir, pedagang dan masih banyak yang lainnya,” ungkap penggemar sepeda tua tersebut.
    Komunitas yang menaungi 90 pecinta sepeda onthel yang berasal dari seluruh wilayah karisedanan Surakarta tersebut terbentuk dari rasa suka yang dimiliki oleh sang ketua terhadap sepeda tua. ”Ketika masih duduk di kelas VI SD, saya suka naik sepeda dan hal itu terulang kembali ketika saya sudah menginjak dewasa. Dan kebetulan waktu itu saya juga menemukan teman yang juga menyukai kegiatan bersepada,” kenangnya.
    Selanjutnya, dari itu komunitas ini terbentuk. ”Kemudian dari situlah awal mulanya komunitas ini terbentuk tepatnya pada 8 Agustus 2008 silam,” lanjutnya.

    Kali pertama komunitas ini terbentuk hanya ada 9-10 orang saja, namun lama kelamaan bertambah. Keunikan lain dari komitas yang memiliki agenda rutin bersepeda setiap minggu keliling Kota Solo dengan meikmati keindahan serta berbagai jenis makanan ini yakni kemudahan calon anggota baru untuk bergabung. ”Bagi calon anggota baru yang ingin bergabung dengan komunitas ini, memiliki sepeda onthel bukanlah syarat mutlak, yang paling mutlak adalah apresiasi yang dimiliki terhadap sepeda,” terang pria berkacamata itu.

    Syarat itu terbukti karena memang ada salah partisipan yang saat ini telah menjadi anggota Sepeda Onthel Lawas Solo yang belum memiliki sepada. ”Saya menggemari sepeda lawas ini, tetapi hingga saat ini saya belum memilikinya. Walau demikian saya ketika ada acara-acara yang berhubungan dengan komunitas ini saya selalu diikutsertakan,” ungkap Alfin

    Umumnya sepeda tua atau onthel memang identik dengan orangtua, tetapi di komunitas ini anggotanya bukan saja dari kalangan orangtua tetapi lebih menyeluruh. ”Di sini saya mendapat banyak teman karena yang gabung dengan komunitas ini banyak pula yang berasal dari kalangan anak muda,” ungkap Satria Yudha.
    Satria yang saat ini memangku jabatan sebagai sekretaris dua ini juga menambahkan jika dengan mengikuti komunitas sepeda tua ini menjadi lebih sehat. ”Kita kan kemana-mana naik sepeda jadi lebih sehat selain itu juga ikut mensukseskan program global warming,” ungkapnya.

    Selain ingin menciptakan bumi yang sehat, komunitas ini juga memiliki tujuan untuk mengembalikan Kota Solo sebagai kota sepeda. ”Kami juga ingin mengembalikan kepribadian Kota Solo yang santun dan bersahaja,” tutupnya. (Rani Setianingrum)

    sumber:

    http://harianjoglosemar.com/berita/sepeda-onthel-lawas-solo-bersepeda-dengan-pakaian-unik-8276.html

  9. dian@SOLO says:

    Memiliki Banyak Nilai
    Senin, 01/02/2010 11:00 WIB – tia

    Semakin tua dan lawas usia sebuah benda, makin memiliki nilai tinggi baik dari segi sejarah maupun harga. Hal itulah yang nampaknya menjadi daya tarik penggemar sepeda onthel.

    ”Saya menggemari sepeda onthel karena ingin merasakan kembali lagi mengenang masa ketika saya pertama kali menaiki sepeda. Tidak hanya itu, saya juga menemukan kepuasan tersendiri dengan mengendarainya,” ungkap Dian Arifiyanto.

    Senada dengan Dian, Denny Suryawan pun mengungkapkan hal yang sama. ”Rasanya puas jika dapat memiliki barang yang kita suka, sampai-sampai saat ini saya telah memiliki tujuh sepeda onthel.”

    Jika telah menyukai sesuatu tentunya biaya bukanlah menjadi halangan untuk mendapatkannya. ”Untuk harganya sendiri bervariasi ada yang cuma Rp 50.000 dan ada pula yang tak hingga,” tambah Denny yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris I komunitas Sepeda Onthel Lawas Solo.

    ”Namun, tak semua sepeda yang kami miliki sekarang ini hasil pembelian. Ada pula yang barter dengan orang lain, ada yang dikasih, dan ada pula yang warisan dari orangtua.”

    Tidak hanya memiliki harga yang bervariasi, jenisnya pun beragam. ”Sepeda onthel ini ada bermacam-macam mulai dari Jerman, Belanda, Perancis dan Inggris yang tentunya juga memiliki perbedaan satu sama lain. Macamnya sendiri ada Harley Davidson, Gezele, Reality, Solingen, Simplex, Torpedo dan Fonggers,” terang Dian.
    Cara mendapatkan sepeda onthel ini sendiri cukup mudah. Di Solo ini untuk mendapatkan sepeda jenis ini terhitung mudah karena ada beberapa pasar yang menjualnya, selain itu pula ada yang dapat di tempat teman.

    Untuk perawatannya pun mudah. Katanya, untuk perawatannya mudah dan simpel cukup dibersihkan dan jika ada sesuatu yang tidak beres segera dibawa ke bengkel karena ini merupakan barang kesayangan jadi harus hati-hati juga.

    Saat ini, sebagai penggemar sepeda, anggota komunitas sepeda onthel ini cukup bangga dengan fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah Kota Solo. ”Kami merasa ruang publik bagi kami mulai terbuka karena saat ini sudah ada rambu-rambu bagi pengguna sepeda, ada tempat parkir dan ada pula jalan khususnya,” tutur Dian.
    Walau demikian komunitas ini juga masih memiliki pekerjaan rumah yakni memasyarakatkan kegiatan bersepeda. (tia)

    sumber:

    http://harianjoglosemar.com/berita/memiliki-banyak-nilai-8275.html

  10. dian@SOLO says:

    Sering Kunjungi Tempat Bersejarah

    Sepeda Onthel Lawas Solo
    Sekretariat 1 : Jl. Srikatan 16 RT 1 RW 4 Kerten, Laweyan, Surakarta
    Telepon : (0271) 5886659

    TAK hanya sepeda motor atau mobil yang mempunyai komunitas di Surakarta. Sepeda onthel zaman dulu pun punya organisasi. Lihat saja Sepeda Onthel Lawas Surakarta. Mereka adalah sekumpulan orang yang ingin melestarikan benda-benda kuno seperti sepeda onthel.

    Dibentuk 8 Agustus 2008, salah satu perintisnya yakni Dian Ariffianto Budi Susilo. Dian ingin melestarikan kebudayaan Surakarta. Pehobi sepeda klasik ini tahu bahwa sepeda onthel tua yang tersebar di seluruh Indonesia berasal dari Kota Bengawan.

    Saat ini komunitas tersebut sudah diisi 92 anggota yang berasal dari seluruh Eks Karesidenan Surakarta. Kegiatannya banyak banget. Jalan-jalan hingga kegiatan budaya, sosial, dan kampanye sepeda. Setiap bulan sekali mereka melakukan heritage track dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah.

    Jika ada even kota pun mereka selalu berpartisipasi dan bekerjasama dengan berbagai komunitas pendukung seperti Paguyuban Putra Putri Solo maupun komunitas keroncong.

    “Untuk kegiatan sosial, ada iuran setiap bulan yang dibayarkan oleh anggota Rp 5.000. Tiap malam Minggu kami selalu adakan pertemuan untuk sekadar sharing atau membicarakan kepentingan komunitas. Pertemuan diadakan bergantian di rumah anggota. Sehingga silaturahmi terjaga dengan baik,” kata Dian, ketua komunitas.

    Pecinta onthel yang berminat untuk bergabung, bisa mendaftar ke sekretariat dengan membayar uang ganti membuat PIN, tanda pengenal anggota, tanda untuk sepeda, dan lain-lain. Jika kamu belum mempunyai sepeda, jangan khawatir ! Anggota Sepeda Onthel Lawas Solo punya jiwa kesetiakawanan tinggi.

    Kamu akan dipinjami sepeda terlebih dahulu. Jadi, jangan buru-buru membeli sepeda. Yang penting kamu punya hobi dengan sepeda onthel. (uty)

    http://koranjitu.com/lifestyle/hotspot%20dan%20sosok/hotspot/detail_berita.php?ID=1581

  11. dian@SOLO says:

    Perayaan Hari Tari Sedunia
    Sepeda Onthel Lawas Solo (SOLO) Meriahkan Solo Menari 24 Jam
    Timlo.Net – Kamis, 29 April 2010 | 15:36 WIB

    Dok. Timlo.Net/Mahendro
    Puluhan anggota Sepeda Onthel Lawas Solo (SOLO) berpawai menyusuri jalan Slamet Riyadi pada hari Kamis, (29/4). Pawai tersebut merupakan bagian dari acara Solo Menari 24 Jam.
    Solo (29/4) – Peringatan Hari Tari Sedunia yang di gelar di Kota Solo juga dimeriahkan oleh Sepeda Onthel Lawas Solo (SOLO), sebuah komunitas pencinta sepeda onthel. Puluhan anggota SOLO ikut serta dalam pawai rombongan penari yang hendak berangkat dari Sriwedari menuju Pasar Ngarsopuro.

    Anggota Solo Onthel Lawas Solo (SOLO) sendiri telah mengikuti rombongan penari sejak dari Solo Square, dan akan terus berlanjut hingga ke ISI dimana puncak acara Peringatan Hari Tari Sedunia akan berlangsung.

    Dengan mengenakan pakaian surjan lurik khas orang Jawa para anggota SOLO mengayuh sepeda onthel meraka menyusuri jalan Slamet Riyadi. Sesekali para pecinta sepeda onthel itu melambaikan tangan untuk menyapa penonton yang menyaksikan.

    Terik matahari yang panas dan lalu lintas jalan yang ramai akan kendaraan bermotor tidak menyurutkan niat anggota komunitas yang berdiri mulai tahun 2008 ini untuk memeriahkan acara Peringatan Hari Tari Sedunia.

    Ketika ditemui Timlo.net, Dian Ariffianto , ketua Sepeda Onthel Lawas Solo (SOLO) mengatakan keikutsertaan SOLO memeriahkan peringatan Hari Tari Sedunia ini merupakan sebuah usaha mengenalkan budaya dan tradisi Jawa kepada masyarakat. “Kami berusaha memeriahkan dan ikut serta dalam setiap hajatan Kota Solo. Ini juga merupakan bentuk dukungan kami terhadap Kota Solo,” ungkap pria berkacamata ini.

    sumber

    http://senibudaya.timlo.net/bacaberita/1818/Sepeda-Onthel-Lawas-Solo-(SOLO)-Meriahkan-Solo-Menari-24-Jam

  12. solokomunitas says:

    (sebuah catatan FB pak Itonk Brata)

    Pada hari kedua pertemuan dengan Theo de Kogel, saya mendapat copy catatan beliau tentang tahun produksi Simplex dengan nomer frame 6 digit. Ini adalah temuan terbesar yang membantu mencerahkan para Simplexian di tanah air yang sejauh ini hanya mereka-reka tahun produksinya. Berikut tabel yang saya copy dari catatan Theo.

    Tahun Produksi Nomer Frame

    1931 100000 – 112000

    1932 112000 – 126000

    1933 126000 – 145000

    1934 145000 – 167000

    1935 167000 – 193000

    1936 193000 – 220000

    1937 220000 – 247000

    1938 247000 – 275000

    1939 275000 – 305000

    1940 305000 – 330000

    1941 330000 – 348000

    1942 348000 – 355000

    1943 355000 – 356000

    1944 356000 – 360000

    1946 360000 – 375000

    1947 375000 – 400000

    1948 400000 – 425000

    1949 425000 -

  13. solokomunitas says:

    masih untuk SIMPLEX, nomor digit 5 dengan satu atau dua huruf, sebelum 1953 atau juga digunakan sebelum PD II

  14. dian@SOLO says:

    Jalur Lambat di Solo Disebut-sebut Terpanjang se-Indonesia

    http://www.detiknews.com/read/2012/02/08/193410/1837798/10/jalur-lambat-di-solo-disebut-sebut-terpanjang-se-indonesia

    Solo – Pakar transportasi Universitas Katholik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, menyebut jalan jalur lambat di Kota Solo merupakan yang terpanjang di Indonesia. Kondisi geografis yang datar semakin menguntungkan Solo sebagai kota dengan jalan ramah lingkungan tersebut.

    “Jalur lambat di Kota Solo ini terpanjang di Indonesia, menyambung dari batas kota di barat hingga batas kota di bagian timur. Keseluruhan panjangnya mencapai 30 kilometer,” papar Djoko kepada wartawan di Solo, Rabu (8/2/2012).

    Dengan infrastruktur yang telah tersedia dan didukung kondisi geografis Solo yang datar, menurut Djoko, sangat mendukung untuk pengembangan sarana transportasi sepeda kayuh. Pengendara sepeda tidak akan terganggu oleh kendaraan bermotor karena memang jalan itu dikhususkan untuk kendaraan tak bermotor.

    “Bersepeda di Solo ini dipastikan lebih aman dibanding di kota lain. Pengendaranya juga tidak akan cepat lelah karena jalannya datar. Namun memang Pemkot harus segera membenahi lagi jalur lambat karena kondisinya saat ini tidak semulus jalur utama,” lanjut Djoko.

    Sementara, menyikapi fakta itu Bank Mandiri Cabang Solo mengaku telah mengajukan permohonan ke kantor pusatnya untuk membantu penyediaan sepeda angin atau sepeda kayuh di tempat-tempat di Kota Solo.

    “Permohonan itu sudah kami kirim ke pusat. Bantuan serupa juga pernah kami berikan untuk Universitas Gadjah Mada (UGM), beberapa waktu yang lalu,” ujar Relation Manager Bank Mandiri Solo, Pringgo Suripto.

    Dia memaparkan sebelumnya melalui program CSR, Bank Mandiri membelanjakan dana sebesar Rp 400 juta untuk pengadaan 202 sepeda serta 7 shelter tempat penyimpanan sepeda di UGM. Karena itu Pringgo optimis untuk pengadaan di Solo kantor pusatnya akan menyetujui, bahkan mungkin akan lebih besar lagi.

    (mbr/try)

  15. solokomunitas says:

    http://www.solopos.com/2012/lifestyle/fokus-lifestyle/cagar-budaya-anak-muda-pelihara-cagar-budaya-164299

    CAGAR BUDAYA: Anak Muda Pelihara Cagar Budaya

    Belasan sepeda tua yang berjajar di depan gerbang Balaikota Solo tiap Sabtu malam itu belum seberapa banyak. Sekilas, para pemiliknya hanya bersantai di samping sepeda-sepedanya layaknya ratusan anak muda lain di sekitar mereka. Namun di balik itu, ada yang jauh lebih berarti bagi mereka di balik sepeda tua itu.

    Sepeda tua bukan seperti sepeda fixie atau sepeda angin biasa. Bagi mereka, sepeda tua itu telah menjadi alat gerakan pelestarian sejumlah kawasan dan bangunan bersejarah yang terhampar di Kota Solo. Dengan sepeda tua, mereka mengajak orang untuk mengenal dan peduli bahwa kota ini punya ratusan jejak sejarah yang terlupakan.

    “Selain bersenang-senang dengan sepeda tua, kita ingin mempromosikan kota. Kota ini punya banyak sekali tempat bersejarah, tapi banyak dari kita yang tidak kenal,” kata Dian Ariffianto Budi Susilo, arsitek yang selama ini dikenal sebagai Ketua Onthelis Solo, Sabtu (18/2/2012) malam.

    Berawal dari kegemaran berjalan-jalan dengan sepeda, tercetuslah ide untuk ikut serta dalam pelestarian bangunan dan kawasan cagar budaya. Dengan sepeda tua, mereka menelusuri kota dan blusukan ke kawasan-kawasan tua. Di Solo, ada banyak objek yang biasa mereka kunjungi, mulai dari bangunan tua, museum, pasar-pasar tua, kampung batik, kampung-kampung perajin blangkon, sandal kulit hingga tak lupa mengunjungi kawasan bantaran sungai.

    Saat berkunjung inilah mereka menemukan banyak hal. Berbincang dengan para penduduk setempat dan berbagai literatur membuat mereka bukan hanya tahu tentang sejarah, tapi juga masalah perkotaan yang kini mengancam. Misalnya bangunan-bangunan yang terancam rusak dimakan usia, kampung yang terdesak modernisasi dan terhimpitnya sepeda atau becak oleh kendaraan bermotor.

    “Dalam pelestarian heritage, arahnya adalah sejarah, budaya dan transportasi,” ujar Dian. “Sepeda tua itu merekam sejarah. Mereka datang ke sini dibawa oleh orang kolonial dan mengenal teknologi sepeda jauh sebelum kita.”

    Begitulah mimpi tentang kota tua dan sepeda itu berasal. Bukannya ingin mengembalikan kenangan lama, namun sepeda itu menjadi simbol pelestarian cagar budaya. Berbagai ritual pun dilakukan seperti bersepeda ke tempat-tempat tua, Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti dan bahkan makam Bonoloyo. Untuk melestarikan tradisi Jawa, mereka pun menggabungkannya dengan tradisi sepeda. Setiap tahun menjelang Suro, mereka melakukan ritual jamasan sepeda tua di depan Balaikota. Bukan bermaksud macam-macam, mereka hanya menunjukkan penghargaan pada sepeda tua yang bersejarah.

    Aktivitas itu pelan-pelan dikenal luas oleh masyarakat di luar Solo. Melalui berbagai forum online, banyak pecinta jejak sejarah yang tertarik dengan aktivitas ini dan menyempatkan diri datang ke Solo. Salah satunya adalah tiga orang Belanda yang belum lama ini datang ke Solo. Para onthelis ini memang sudah menyiapkan “paket perjalanan” bagi orang Belanda tersebut berkeliling kota. Dengan naik sepeda, mereka diantar bersama ke berbagai pusat kesenian, kampung batik Laweyan, Kauman dan sebagainya.

    “Jadi kita tunjukkan bahwa memelihara heritage itu simpel dan enggak berat.”

    Kampanye online

    Selama ini kepedulian terhadap benda dan kawasan cagar budaya memang masih banyak ditunjukkan oleh kalangan muda. Di Solo memang ada komunitas heritage, tapi kebanyakan bukan dimotori oleh orang-orang muda. Kenyataannya belum banyak anak muda yang mau terlibat aktif dalam pelestarian ini.
    Hal inilah yang dirasakan oleh Asep Kambali selama setahun berada di Solo. Sejak 2008 hingga 2009, pemuda asal Jakarta ini memang tinggal di Solo karena tuntutan pekerjaannya sebagai General Manajer Roemahkoe. Di sela-sela menjalani pekerjaannya, Asep mencoba menggerakkan komunitas Historia Indonesia di wilayah Solo.

    “Sebenarnya saat itu saya sudah mau membentuk Korwil Solo, ada sekitar tujuh orang yang siap dan ada yang mau menyediakan tempat. Tapi setelah itu saya sudah tidak tahu lagi kabarnya karena saya juga sudah kembali ke Jakarta,” terang Asep, Sabtu (18/2) lalu.

    Historia Indonesia sebenarnya bukan komunitas baru, namun di Solo komunitas ini belum banyak di kenal. Dideklarasikan di Jakarta pada 22 Maret 2003, komunitas ini konsen dalam isu-isu pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah. Mereka aktif dalam kampanye pelestarian kota-kota tua di Indonesia, termasuk Solo.

    “Waktu itu dibentuk oleh anak-anak sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ), tapi ada juga anak-anak UI yang ikut bergabung,” ungkapnya.

    Komunitas itu terus berkembang dengan keberadaan media online seperti blog dan jejaring sosial. Di berbagai forum online, mereka banyak berdiskusi tentang sejarah dan kondisi sejumlah bangunan cagar budaya yang terancam. Di berbagai kota, termasuk Jakarta, beberapa situs bersejarah memang terancam oleh penggusuran.

    Salah satunya adalah pembongkaran Rumah Cantik Menteng yang selama ini dikenal sebagai salah satu bangunan kuno di Jakarta. Di dunia maya, berbagai dukungan digalang untuk memprotes pembongkaran bangunan tersebut oleh pengembang.

    “Di Jakarta, kami sering mendukung gerakan-gerakan di dunia maya. Misalnya saat kasus di Menteng, kami terus kampanyekan sehingga masyarakat mulai peduli.”

    Tak hanya di Jakarta, Asep dan kawan-kawan juga terus berkampanye menolak perusakan kawasan cagar budaya di berbagai kota, seperti Pangkal Pinang dan Salatiga. Meskipun lebih banyak melalui dunia maya, gerakan ini cukup ampuh untuk penyadaran masyarakat.

    Komunitas ini memang sangat menyayangkan beberapa pemerintah kota yang acuh tak acuh terhadap cagar budaya. Karena itulah Asep menaruh harapan besar terhadap Kota Solo yang memiliki banyak cagar budaya fisik. Selama di Solo, Asep banyak berhubungan dengan komunitas-komunitas yang terkait dengan isu pelestarian cagar budaya, seperti Onthelis Solo dan Solo Youth Heritage.

    JIBI/SOLOPOS/Adib Muttaqin Asfar
    Adib Muttaqin Asfar

  16. “Bersepeda di Solo ini dipastikan lebih aman dibanding di kota lain. Pengendaranya juga tidak akan cepat lelah karena jalannya datar. Namun memang Pemkot harus segera membenahi lagi jalur lambat karena kondisinya saat ini tidak semulus jalur utama,” lanjut Djoko.

    Sementara, menyikapi fakta itu Bank Mandiri Cabang Solo mengaku telah mengajukan permohonan ke kantor pusatnya untuk membantu penyediaan sepeda angin atau sepeda kayuh di tempat-tempat di Kota Solo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 103 other followers

%d bloggers like this: