Mengembalikan Atmosfer Bersepeda…

“Kami ingin memiliki bargaining power ke pemerintah agar pengguna sepeda memiliki posisi sederajat dengan pengguna alat transportasi lain,” kata Bagus Satrio, Panitia Temu Onthelis 2007 dalam sambutan singkatnya, Jumat malam, pertengahan November, di Taman Budaya Yogyakarta.

Malam itu merupakan pembukaan kegiatan yang diikuti oleh semua pencinta sepeda—khususya sepeda kuno atau tua—dari berbagai daerah di Tanah Air. Selain pameran sepeda berbagai merek yang mencapai 120 unit, juga digelar kegiatan lain, seperti berkeliling ke sejumlah kawasan di Kota Yogyakarta dengan mengendarai onthel.

Adalah Podjok salah satu komunitas pencinta sepeda di Kota Yogyakarta dan sekitarnya yang berinisiatif menyelenggarakan kegiatan ini. Selain dalam rangka ulang tahunnya yang pertama, kegiatan itu juga ditujukan untuk menyadarkan semua pihak termasuk pemerintah akan pentingnya sepeda.

Bagaimana tidak, kondisi saat ini sudah jauh berbeda dengan 20-30 tahun lalu. Selain polusi yang makin menjadi, hampir semua ruas jalan kian sesak. Itu terjadi bukan lantaran disebabkan oleh sepeda yang disukai Bagus Satrio dan kawan-kawan, tetapi perkembangan zaman yang menuntut kemudahan sehingga meninggalkan segala sesuatu yang dinilai masih memiliki banyak kekurangan.

Alat transportasi yang ditemukan Baron Van Draise de Sauerbrun (1817) itu pun makin terpinggirkan. Serbuan kendaraan bermotor kini tidak lagi hanya terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, tetapi juga di Yogyakarta yang notabene pernah dikenal sebagai “surganya” para pengendara sepeda.

Keelokan jalan-jalan di kota pelajar yang pada tahun 1970-an dan 1980-an dihiasi sepeda pun luntur. Lihat saja pada jam sibuk, hampir semua ruas jalan disesaki kendaraan bermotor. Bahkan, lajur paling kiri—lebar tak lebih dari 1,5 meter—yang semestinya diperuntukkan bagi sepeda (di beberapa lokasi ada gambar sepeda pada aspal) pun tidak tersisa.

Untungnya, di daerah istimewa ini masih ada sejumlah wilayah yang memberi porsi lebih bagi para penggemar atau bahkan orang yang karena kondisi ekonomi terpaksa menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama. Lihat saja sejumlah ruas jalan di Kabupaten Bantul yang berada di sisi selatan Kota Yogyakarta, kondisinya pasti lain dengan ruas jalan di Yogyakarta atau Sleman. Tiap pagi dan sore, ribuan pengendara sepeda di sepanjang Jalan Parangtritis, Jalan Imogiri Barat, Imogiri Timur, atau Jalan Bantul, tampak berbaris rapi dengan kedua kaki bergerak dinamis mengayuh pedal. Irama lajunya begitu terasa, layaknya orang yang siap menghadapi hari.

Sangat berbeda

Ini sangat berbeda dengan pengendara kendaraan bermotor. Munculnya berbagai iklan di media massa yang “mendesak” konsumen dengan produk “kendaraan tercepat”, “yang lain ketinggalan”, dan “teknologi terbaru” telah memengaruhi jiwa pemakai jalan yang sebetulnya belum siap benar secara mental.

Guru besar Magister Sistem dan Teknik Transportasi (MSTT) Universitas Gadjah Mada, Munawar, mengatakan, belum semua pengguna jalan di DIY memahami benar prinsip berkendara yang aman dan memerhatikan orang lain. Untuk itu, cara-cara mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) perlu diperketat dengan pemahaman cara berkendara yang benar. Jadi bukan hanya sebatas bisa naik sepeda motor, kemudian mendapatkan SIM.

Melihat fenomena ini, tak heran kalau kemudian Ketua Taman Budaya Yogyakarta Dian Anggraeni—yang juga hadir dalam pembukaan Temu Onthelis 2007—menyebut, ketika melihat sepeda, gambaran atau citra yang muncul saat ini adalah sebuah kearifan, bukan hanya seonggok alat transportasi biasa.

“Ketika melihat di Malioboro ternyata ada jejeran sepeda, maka ini menjadi sangat unik dan menyentuh,” ujarnya. Maklum, menurut pandangan Dian, (mungkin) Malioboro—sebagai salah satu jalan yang sangat terkenal di Yogyakarta—saat ini jauh berubah. Selain aktivitas pedagang dan wisatawan, Malioboro kini juga sesak oleh kendaraan bermotor.

Menurut Dian, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengembalikan kondisi yang ada. Karena di satu sisi, karena perkembangan, produsen kendaraan bermotor terus berinovasi dan membombardir khalayak dengan berbagai tawaran menggiurkan. Lihat saja, berapa persen media iklan di Kota Yogyakarta dan sekitarnya berisi kemudahan untuk mendapatkan sepeda motor teknologi terbaru dengan persyaratan yang ringan “hanya dengan uang Rp 900.000 sudah dapat membawa pulang motor baru”.

Sebagai gambaran, data tahun 2004, pertumbuhan sepeda motor mencapai 38 pesen, jauh meninggalkan pertumbuhan prasarana jalan yang hanya enam persen. Dalam lima tahun terakhir, perkembangan kendaraan bermotor di DIY rata-rata 11,9 persen tiap tahun. Pertambahan kendaraan bermotor baru mencapai 83.761 unit per tahun, di mana lebih dari 90 persen di antaranya sepeda motor. Adapun pertambahan roda empat hanya 7.853 unit per tahun.

Sebuah angka yang besar tentunya, mengingat luas provinsi DIY hanya 3.185,80 km2. Itupun, persebaran kendaraan bermotor tidak merata. Mereka lebih banyak terkonsentrasi di perkotaan, seperti di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Berdasarkan data Kepolisian Daerah DIY, jumlah kendaraan bermotor terbanyak berada di Yogyakarta, yaitu 275.590 unit atau 28,23 persen dari total jumlah kendaraan bermotor (2005).

Masih lebih banyak

Meski pengguna sepeda di DIY perlahan digeser oleh kendaraan bermotor, anggapan Yogyakarta adalah barometer sepeda di Tanah Air masih melekat. Ketua Umum Podjok Towil mengatakan, banyak pencinta sepeda di Tanah Air yang menganggap Yogyakarta masih sebagai gudang sepeda. “Saat ini, jumlah sepeda yang ada di Yogyakarta masih lebih besar dibanding dengan kota lain, seperti Bandung dan Jakarta,” ujarnya.

Data pasti jumlah pemilik sepeda memang tak ada, tetapi Podjok sendiri memiliki lebih dari 350 anggota dari berbagai kalangan. “Kami berharap pencinta sepeda tidak hanya terbatas 1.300-an orang, sebagaimana peserta Temu Onthelis 2007. Kami berharap sepeda bisa memiliki ruang tersendiri,” kata Towil.

Untuk itu, selain memperkenalkan kepada masyarakat bahwa sepeda masih menjadi alat transportasi primadona, para penggemar sepeda ini juga meminta kepada pemerintah agar memberikan perhatian, terutama menyediakan sarana bagi sepeda yang kian sempit.

Menurut Towil, sepeda masih menjadi alat transportasi yang menjanjikan. Selain bebas polusi, sepeda juga murah. Alat transportasi ini akan menjadi salah satu alternatif di tengah isu krisis energi. “Ke depan, harga bahan bakar pasti naik lagi,” ujarnya.

Ananta Heri, salah satu perupa yang juga kolektor sepeda tua, berharap rekan-rekannya tidak hanya sekadar mengoleksi. Membiarkan sepeda-sepeda terparkir di dalam ruangan tidak akan banyak menyelesaikan persoalan. “Katakanlah, dengan mengendarai sepeda selama satu jam, kita akan mengurangi polusi selama satu jam pula. Nah, tinggal mengalikan saja kalau kegiatan itu dilakukan tiap hari,” ujarnya.

Selain Podjok, di Yogyakarta terdapat beberapa klub termasuk jenis sepeda sport seperti BMX. Mereka, antara lain, adalah Jogja Ontel Community (JOC), Generasi Onthel Club (GOC) Bantul, Bimbitama Bicycle Club (BBC), Onthel Clithikan Mangkubumi Club (OCMC), dan Biru Onthel Mania (BOM), hingga Jaringan Sepeda Hijau sejumlah universitas negeri dan swasta di Yogyakarta.

Masing-masing klub biasanya menggelar kegiatan rutin yang dilakukan setiap minggu.

Pada april 2005, di Yogyakarta juga terbentuk Forum Sepeda Jogja yang merupakan jaringan dari komunitas-komunitas bersepeda. Mereka juga mengeluarkan deklarasi bersamaan dengan pekan keselamatan transportasi (United Nation Global Safety Week). (Defri Werdiono)

sumber:
http://www2.kompas.com/ver1/metropolitan/0711/29/031922.htm
Kamis, 29 November 2007 – 03:19 wib

10 Responses to Mengembalikan Atmosfer Bersepeda…

  1. elsabarto says:

    yo wis tak dukung, ayo masyarakatkan pit onthel dan onthelkan masyarakat, salam kenal mas, cah solo ing sikabumi

  2. Top'ix Contry says:

    Ayo rekan-rekan gerakan bersepeda harus kita dukung guna menyelamatkan bumi dan memberikan kesehatan buat kita-kita.

    Semoga cita-2 SOLO dapat terwujud, Amin

  3. iwan hatta says:

    salam kenal mas Dian..
    semoga virus2 onthel segera menyebar dikota solo.
    dan salam buat pak Totok,kapan mampir di bundaran HI lagi..

  4. Wong SOLO suka Nasi Liwet says:

    Comment :
    Content Blog ini saya rasa minim pictures nya, sehingga kami merasakan boring…
    artinya apa?
    Ini kan Blog Komunitas Sepeda, jadi sebelum memutuskan untuk meng Create Blog harus memikirkan bagaimana kedepannya harus me “manage” blog tersebut.
    Saran:
    Tampilkan Dong Heritages Solo
    tampilkan dong profiles onthelist SOLO dan koleksi onthelnya
    (itu sebagian kecil saja)
    Maaf ya kalau cuman kutipan atau saduran artikel saya rasa itu biasa aja, jangan merasa puas kalau artikel yang ditayangin trus mendapat comment, karena kita tahu orang Indonesia suka comment

    Maju Terus Onthel SOLO

    Wong SOLO yang pengen Blog SOLO lbh berbobot!!!

  5. Wong SOLO suka TIMLO says:

    Blog ini minim up date

  6. mykyocera says:

    Salam perkenalan dari blog http://basikalmalaya.wordpress.com moga blog ini terus sukses untuk acara-acara seterusnya🙂 Moga ontelis seluruh Nusantara bisa bersilaturahim dengan lebih dekat. Mudah-mudahan.

  7. Ronny SOLO says:

    Ayo Mas Dian,Kita bikin acara lagi, Gen gayeng! Nanti rekan-rekan kita jamu cabuk rambak wae, mesti okeh sing durung tau ngrasakke…..

  8. Salam kenal kagem Mas Dian.Apa masih kumpul tiap malam minggu di depan balaikota?Salam dari aku dari Onthel Community (Oncom) Bogor – H.Is -Hp.08128374637

    Boeat mas elsabarto di Sukabuminya mana?minta alamatnya dong.Nanti kita Oncom Bogor mau main ke sana lho.Naik kereta api ke Sukabumi .Asyiiik

  9. solokomunitas says:

    thanks… masukannya… actualy yg jadi admin memang sedang lama ga OL pakde-pakde sekalian…kritik saran anda memang sangat kami harap untuk kemajuan kami dan onthel Indonesia.
    TQ.

    memang blog ini milik Sepeda Onthel Lawas Solo. Tapi, perlu diketahui bahwa blog ini juga berorientasi pada gerakan dan semua hal yang menurut admin bisa memberi kontribusi untuk majunya gerakan bersepeda akan dimuat di sini. dan yang kita sajikan beberapa posting terakhir memang sengaja kita kliping dari media dengan TAG : KLIPING.
    semoga berkenan.

    @ pak ISWARTONO. SOLO masih tetap ngumpul do balaikota tiap malam minggu pak. salam sejahtera kembali buat pak Is. keep in touch pak.

  10. Teqs taqo says:

    Bravo onthelis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: