Cabut Paku Jalur Hijau Solo

April 30, 2009
all folks in action

all folks in action

Hari bumi diperingati tiap tanggal 22 April di seluruh belahan bumi. Begitu juga dengan Sepeda Onthel Lawas Solo [SOLO] yang melakukan aksi cabut paku di jalur hijau kota Solo.

 

get ready...

get ready...

jelajur @ merah : cerabut paku @ hijau : bersepeda muter kota Solo

jejalur @ merah : cerabut paku @ hijau : bersepeda muter kota Solo

Acara dilakukan hari Minggu (26/04) dimulai pukul 07.00 oleh 32 onthelis [SOLO] dengan berbekal palu, tang, dan linggis. Ternyata hasil cabut paku lumayan banyak. Dari Lapangan Kota barat sampai dengan Monumen pers yang hanya berjarak 1,3km berhasil dikumpulkan kurang lebih 3-4 kilo paku bekas poster dan atribut kampanye pemilu legislatif kemarin. Bayangkan saja kalau seluruh jalur hijau kita sisir.

 

baru beberapa meter, ini hasilnya

baru beberapa meter, ini hasilnya

Setelah sesi cabut paku, [SOLO] meneruskan acara sepedaan keliling kota Solo menyusuri jantung kota lewat Slamet Ryadi, ke arah Gladag, kemudia supit urang Keraton Surakarta, Pasar Klewer, dan langsung menuju ke tugu lilin, Gendengan.

 

sejenak di monumen pers, salah satu museum di kota Solo

sejenak di monumen pers, salah satu museum di kota Solo

 

stase tugu lilin

stase tugu lilin

Memang tidak seberapa yang kita kumpulkan pada hari itu. Tapi dari sini kita jadi tahu, ternyata sampah berupa paku yang menempel di pohon di jalur hijau cukup banyak juga. Dan ini akan terus berjalan seperti itu tanpa adanya peraturan yang sekiranya mampu mengurangi jumlah sampah ini.

 

Mari kita jaga bumi ini. Kurangi sampah dan tentunya gunakan kembali sepeda!!!

 

 

 

 

 

 

catatan:

T U G U   L I L I N

Dari temu Sinar Harapan pada hari Kamis tanggal 8 Mei 2008 diperoleh informasi bahwa pada tanggal 20 Mei 1948 diperingatilah 40 tahun yang saat itu masih menggunakan “Hari Kebangunan Nasional” yang pertama. Bertindak sebagai ketua adalah Ki Hajar Dewantara, anggota Tjugito dari PKI, AM Sangadji dari Masyumi, Sabilal Rasjad dari PNI, Nyonya A. Hilal dari Kongres Wanita Indonesia, Tatang Mahmud dari IPPI dan H. Benyamin dari GPII. Dalam penjelasan pemerintah di media cetak 21 Mei 1948 “Pergerakan Rakyat Indonesia yang diatur secara organisasi modern, merayakan hari ulang tahunnya yang ke 40. Hari ini dirayakan diseluruh Indonesia dan di luar negeri. Kesempatan ini dipakai oleh partai-partai dan organisasi yang pusatnya ada di Yogyakarta untuk menandatangani sebuah manifest (surat pernyataan bersama) yang menyatakan perlunya disusun sebuah program nasional untuk semua partai dan organisasi, guna menegaskan “Persatuan dikala bahaya serangan Belanda terbayang”. Sungguh patut semua ini diperingati, dikenangkan guna mendapat pelajaran dan kekuatan batin bagi perjuangan Republik Indonesia sekarang. Pelopor 40 tahun yang lalu tersebut adalah almarhum Dr Wahidin Sudirohusodo, seorang anak desa yang cerdas dan telah membaktikan dirinya dibidang Kesehatan Bangsa. Dibangunnya Boedi Oetomo sebagai bentuk Organisasi Kebangunan Indonesia yang pertama bukan tanpa alas an yang kuat. Sejak itulah pergerakan nasional untuk Kemerdekaan Nasional timbul dan tumbuh. Rawer awe rantas malang-malang putung kata Ki Hajar Dewantoro. Di Ibukota Yogyakarta Presiden Soekarno menyampaikan pidatonya. Antara lain berbunyi “Republik Indonesia mencetus sebagai akibat pengorbanan dan perjuangan pemimpin-pemimpin dimasa lampau”. Maka dimalam resepsi bertempat di Presidenan (sekarang gedung Negara dan pernah menjadi kediaman Presiden RI tahun 1946 – 1949) Nampak suasana persatuan termasuk partai-partai politik yang sedang bertentangan yang dapat membahayakan Negara. Tampak diantara hadirin tokoh-tokoh Dr Radjiman Wediodinongrat, Ki Hajar Dewantoro (ketua peringatan), AM Sangadji dan sebagainya. Pada pagi hari, di Surakarta diresmikan “Tugu Peringatan Nasional” (sekarang Tugu Lilin) yang sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1929 tapi dilarang Belanda untuk diresmikan. Baru pada tanggal 20 Mei 1948 di alam kemerdekaan inilah Monumen itu diresmikan. Setelah itu diadakan pawai keliling kota yang juga mengikutsertakan pasukan Hijrah yang berada dikota Surakarta dan sekitarnya.

Semoga informasi diatas dapat bermanfaat bagi penataan acara Asia Pacific International Conference on ASSET, Solo, 19-22 Mei 2008, sehingga terpadu dengan faktor pendidikan masyarakat tentang kesejarahan nasional, Nobility & Spirituality.

sumber : www.kebangkitan-nasional.com

Tugu Lilin terletak di Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo Penumping. Tugu ini dibangun pada tanggal 20 Mei 1933 untuk memperingati 25 tahun berdirinya pergerakan Boedi Oetomo. Sekaligus untuk menggugah semangat perjuangan dan pengabdian terhadap bangsa Indonesia.

sumber : http://wisatasolo.com/wp/?p=146

 


CYRUS – VENLO, HOLLAND

April 28, 2009
kebetulan sewaktu mengikuti acara tanggal 26 April 2009 lalu mas bambang naik sepedanya yang CYRUS. Langsung saja kita tarik rame-rame buat diangkat ke blog [SOLO].
Pabrik CYRUS berada di Belanda berdiri dari tahun 1884 dan tutup pada tahun 1971 karena bangkrut. Selain membuat sepeda onthel, Cyrus juga memproduksi sepeda motor.

tampilan si cyrus, hollandtampak dari depanemblem depanstang dengan aksesoris lampu bosch dan bel christopher

 

lengkap dengan boncengan anak belakang

lengkap dengan boncengan anak belakang

chain case frame

chain case frame

stop lamp dan kunci hopmi

stop lamp dan kunci hopmi

 

no rangka 158787

no rangka 158787


Nyai “Cemeng Keling”

April 5, 2009

Siapa sangka sewaktu perjalanan SOLO ke Janti beberapa waktu lalu berbuntut panjang…

Ada satu hal menarik, sewaktu kita mampir ke rumah Pak Soenaryo di daerah Pakis. ada suguhan yang sangat membuat dahaga teman-teman onthelis hilang seketika…

"cewek" tua tapi cantik yang langsung diperebutkan untuk ditimang-timang

"cewek" tua tapi cantik yang langsung diperebutkan untuk ditimang-timang

seluloid di stang

seluloid di stang

emblem depan dan form batang

emblem depan dan form batang

pinggul fork depan dan cuping mud guard depan

pinggul fork depan dan cuping mud guard depan

pembangkit tenaga setrum

pembangkit tenaga setrum

no KTP 19886 ada sedikit tanda mirip S di dekat baut

no KTP 19886 ada sedikit tanda mirip S di dekat baut

frame chain case

frame chain case

pedal ENR terpaksa ditambah "ketebalan" supaya kaki onthelis nyampe

pedal ENR terpaksa ditambah "ketebalan" supaya kaki onthelis nyampe

frame chain case belakang

frame chain case belakangstandartstop lamp belakang

kunci belakang "OASI"

kunci belakang "OASI"

OASI dioperasikan

OASI dioperasikanhehehe...ati-ati ada senapan BSA-nya, ntar meletus!!!

matur nuwun tombo ngelakipun pak naryo.


galery SOLO : HUMBER CD 3934

April 5, 2009

Humber milik pak Hamidi ini sangat terawat. Pernah satu waktu mencoba menaikinya, memang rasa nya sangat nyaman dengan engkolan dan putaran roda yang cukup siiiiiirrrrrr licin banget….. dan sadel celeng yang empuk. Pantas pak Hamidi berkomentar ” Sepeda ini seneng banget kalo diajak jalan di turunan alias nggelondor.” Pengaman rem tromol pakem banget, meski pun tanpa polesan gondorukem.

Humber dengan peneng tahun 1992

Humber dengan peneng tahun 1992

frame number CD 3934

frame number CD 3934

SIN HWA - tjojudan 119 solo, memang toko lama banget di solo

SIN HWA - tjojudan 119 solo, memang toko lama banget di solo

shifter sturmey archer 3 speed

shifter sturmey archer 3 speed

transfer merk "HUMBER" masih kentara di chain case

transfer merk "HUMBER" masih kentara di chain case


SOLO @ Solopos [4/5/2009]

April 5, 2009

#1 >> Demi hobi, koleksi puluhan sepeda pun dilakoni

Hobi ngonthel rupanya tak hanya membuat para penggemarnya rajin bersepeda sekaligus berolahraga.
Sebagian onthelis merasa hobi mereka tak hanya cukup dipenuhi dengan mengayuh sepeda kuno menyusuri jalanan kota maupun pedesaan. Lebih dari itu, dari sepeda kuno itu ternyata mereka juga belajar tentang sejarah sepeda. Mulai dari negara-negara produsen sepeda, merk sepeda hingga onderdilnya.
Karena itu pula, sebagian besar onthelis memiliki lebih dari satu sepeda kuno dari berbagai merk. Seperti Cecep yang memiliki tiga koleksi sepeda kuno. Kemudian ada yang lebih banyak lagi koleksinya seperti Dian, warga Jalan Srikatan Nomoer 16 Kerten, Solo, yang punya 9 sepeda kuno. Bahkan ada yang hingga punya koleksi hingga 23 sepeda, yang semuanya kuno, yaitu Tuti, warga Makamhaji, Sukoharjo.
Bagi mereka, sepeda itu bukan semata dibeli lalu disimpan di garasi sebagai koleksi. Selain karena merupakan barang langka dan kuno, koleksi sepeda itu juga dimanfaatkan untuk dipakai onthelis sepeda kuno, yang baru memulai hobinya. “Jadi memang ada beberapa onthelis yang tergolong baru. Dan mereka belum punya sepeda kuno. Karena itulah, beberapa sepeda kuno, saya pinjamkan untuk mereka pakai pada saat ngonthel bareng. Memang bukan sekadar dikoleksi, tetapi juga untuk dipinjam pakai,” jelas Dian ketika ditemui Espos, di rumahnya, Kamis (2/4).
Diakui Dian, harga sepeda kuno yang layak pakai harganya sangat variatif di pasaran. Ada yang seharga Rp 350.000, tapi ada juga yang mencapai jutaan rupiah. Namun kini, sepeda kuno semakin sulit dicari di pasaran, lantaran makin banyak orang yang memiliki. Berbagai merk sepeda yang banyak dimiliki para onthelis antara lain merk Gazella (Belanda), Simplex (Belanda), Fongres (Belanda), Humber (Inggris) dan juga Raleidh (Inggris).
Sepeda kuno, menurut Tuti, sebagian besar memang diproduksi oleh Belanda. Dan sepeda kuno buatan Belanda termasuk yang banyak dicari onthelis maupun kolektor. Karena sepeda kuno buatan Belanda ini kokoh dan awet. Para onthelis itu pun mengaku tidak terlalu sulit merawat sepeda mereka. Perawatan rutin biasanya dilakukan dengan membersihkan dan memberi minyak pelumas di bagian rantai maupun bagian lain yang dirasa perlu.  – iik

#2 >> Ngonthel mania

Kesan santai dan enjoy terlihat saat kita melihat para onthelis ini sedang mengayuh pit atau sepeda kuno mereka. Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas kendaraan bermotor, yang seperti dikejar-kejar waktu, mereka justru terlihat tenang dan rileks.
Serasa menembus lorong waktu. Itulah yang dirasakan sebagian onthelis sepeda kuno saat mengayuh pedal pit mereka. Aktivitas kehidupan sehari-hari yang biasa berjalan cepat terkadang membuat orang kehilangan hal-hal istimewa yang secara tak sadar mereka lewatkan begitu saja. Tapi dengan bersepeda, momen-momen yang terlewatkan itu seolah bisa diulang lagi.
“Sehari-hari, kita kan sudah terbiasa dengan kehidupan yang berjalan serba cepat. Dengan mengayuh sepeda, kita bisa menikmati hal-hal yang seringkali terlewati dalam keseharian kita,” ujar Kesturi Haryunani P, yang mulai kesengsem ngonthel sekitar awal tahun 2007, kepada Espos, Rabu (1/4).
Belum lama memang ia menggeluti hobi barunya ini. Namun demikian, ia sudah bisa merasakan serunya bersepeda kuno rame-rame bersama komunitasnya, menyusuri jalanan di Kota Solo. Meski tergolong pehobi baru, tapi mahasiswi yang akrab disapa Ninok ini sudah bisa merasakan betul manfaat ngonthel menggunakan sepeda kuno. Baginya, ngonthel sepeda kuno serasa menembus lorong waktu.
Dengan bersepeda pula, ia mengaku bisa belajar tentang kearifan. “Menghargai yang tua, karena yang tua itu belum tentu usang. Selain itu, sekaligus beramah-tamah dengan orang-orang baru,” paparnya.
Dan rasa capek yang dialami ketika bersepeda pun seolah pupus, begitu mereka ngonthel bareng. Onthelis lainnya, Cecep, merasakan hal yang sama. Karena sudah telanjur hobi berat, warga Bekonang, Sukoharjo ini mengaku rasa capek saat bersepeda pun seolah pupus oleh rasa senang.
Obat stres
“Bersepeda menggunakan sepeda kuno membuat saya lebih enak melihat situasi sekeliling di sepanjang jalan yang dilalui. Selain itu, bersepeda ini kan sama saja dengan berolahraga. Dan juga sekaligus sebagai obat stres karena jenuh dengan aktivitas sehari-hari,” terang Cecep ketika ditemui Espos, di Jalan Srikatan Nomor 16, Kerten, Solo, Kamis (2/4).
Para onthelis sepeda kuno ini pun tak puas hanya bersepeda di dalam kota. Saking senangnya bersepeda, jarak jauh pun dilakoni. Beberapa onthelis mengaku pernah bersepeda hingga keluar kota. Salah satunya adalah Tuti, warga Makamhaji, Sukoharjo, yang pernah bersepeda bersama beberapa onthelis lainnya ke Yogyakarta.
Kesenangan juga telah membuat mereka berani mencoba tantangan untuk mengayuh rute semakin jauh, hingga ke luar kota. “Pernah ke Yogyakarta naik sepeda bersama yang lain. Saat itu, kami berangkat sekitar jam tiga pagi. Ya karena sudah senang ngonthel, jadi jarak jauh pun tidak masalah, asalkan kondisi memungkinkan,” terang Tuti.
Di samping menyalurkan hobi bersepeda, para onthelis tersebut ternyata juga mempunyai misi melestarikan keberadaan sepeda kuno, yang semakin sulit dicari di pasaran.
Bukan itu saja, mereka juga sekaligus membawa pesan menjaga lingkungan ini agar tidak semakin tercemar oleh polusi. Karena menurut mereka, selain menyehatkan, bersepeda juga tidak menimbulkan pencemaran.  – Oleh: Ivan Indrakesuma

#3 >> Bentuk komunitas, biar seru

Penyaluran hobi ngonthel jarang sekali dilakukan secara individu.
Biasanya, aktivitas itu dilakukan bersama komunitas mereka. Memang pada awalnya, masing-masing onthelis berjalan sendiri-sendiri. Setelah bertemu sesama pehobi, akhirnya mereka pun membentuk komunitas.
Pembentukan komunitas tidak lain adalah agar kegemaran mereka bisa dinikmati lebih seru dalam kebersamaan. Dengan terbentuknya komunitas itu, mereka pun bisa saling bertukar informasi, saling melengkapi kebutuhan yang diperlukan dan juga membantu masyarakat umum. Ada banyak komunitas sepeda kuno di Kota Solo dan sekitarnya, misalnya Sepeda Onthel Lawas Solo (SOLO), Solo Sepeda Kuno (SSK) dan komunitas lainnya.
Melalui komunitas itu, mereka bisa saling bertukar informasi onderdil bahkan sepeda yang dijual atau berbagai kegiatan dari masing-masing komunitas. Meski awaknya merupakan penggemar berat bersepeda, tetapi bukan berarti mereka tidak peduli dengan kondisi masyarakat pada umumnya. Seperti yang dilakukan komunitas onthelis SOLO. Ketua SOLO, Dian, mengatakan aktivitas komunitasnya tak hanya bersepeda secara rutin pada Minggu pagi dan Sabtu malam. Tetapi juga melakukan kegiatan sosial seperti bakti sosial maupun turut serta dalam memeriahkan berbagai even-even besar yang diselenggarakan di Kota Solo.
Selain itu, para onthelis ini juga membawa pesan untuk mengurangi pemanasan global. “Dengan bersepeda, otomatis mengurangi penggunaan bahan bakar dan mengurangi polusi. Dan penggunaan sepeda kuno juga termasuk salah satu upaya mengurangi penggunaan bahan bakar minyak yang menimbulkan pencemaran udara. Kami juga mengikuti kegiatan penanaman pohon dan even-even lain,” papar Dian.
Saat bersepeda bersama komunitasnya di jalan raya, para onthelis juga mempunyai aturan tersendiri. Aturan itu dimaksudkan agar mereka bisa bersepeda dengan nyaman, aman dan enjoy. Misalnya pengaturan berapa banyak mereka harus berjajar, demi keselamatan para pengguna jalan.
“Biasanya tergantung dari jumlah onthelis yang bersepeda. Tapi yang sering kami lakukan ya berjajar dua atau tiga. Kalau yang bersepeda sedikit kami atur berjajar dua,” kata pimpinan komunitas yang mempunyai situs di http://www.solokomunitas.wordpress.com ini.  – iik

sumber :  http://www.solopos.com/

edisi cetak SOLOPOS Edisi : 4/5/2009, Hal.I