SOLO @ Solopos [4/5/2009]

#1 >> Demi hobi, koleksi puluhan sepeda pun dilakoni

Hobi ngonthel rupanya tak hanya membuat para penggemarnya rajin bersepeda sekaligus berolahraga.
Sebagian onthelis merasa hobi mereka tak hanya cukup dipenuhi dengan mengayuh sepeda kuno menyusuri jalanan kota maupun pedesaan. Lebih dari itu, dari sepeda kuno itu ternyata mereka juga belajar tentang sejarah sepeda. Mulai dari negara-negara produsen sepeda, merk sepeda hingga onderdilnya.
Karena itu pula, sebagian besar onthelis memiliki lebih dari satu sepeda kuno dari berbagai merk. Seperti Cecep yang memiliki tiga koleksi sepeda kuno. Kemudian ada yang lebih banyak lagi koleksinya seperti Dian, warga Jalan Srikatan Nomoer 16 Kerten, Solo, yang punya 9 sepeda kuno. Bahkan ada yang hingga punya koleksi hingga 23 sepeda, yang semuanya kuno, yaitu Tuti, warga Makamhaji, Sukoharjo.
Bagi mereka, sepeda itu bukan semata dibeli lalu disimpan di garasi sebagai koleksi. Selain karena merupakan barang langka dan kuno, koleksi sepeda itu juga dimanfaatkan untuk dipakai onthelis sepeda kuno, yang baru memulai hobinya. “Jadi memang ada beberapa onthelis yang tergolong baru. Dan mereka belum punya sepeda kuno. Karena itulah, beberapa sepeda kuno, saya pinjamkan untuk mereka pakai pada saat ngonthel bareng. Memang bukan sekadar dikoleksi, tetapi juga untuk dipinjam pakai,” jelas Dian ketika ditemui Espos, di rumahnya, Kamis (2/4).
Diakui Dian, harga sepeda kuno yang layak pakai harganya sangat variatif di pasaran. Ada yang seharga Rp 350.000, tapi ada juga yang mencapai jutaan rupiah. Namun kini, sepeda kuno semakin sulit dicari di pasaran, lantaran makin banyak orang yang memiliki. Berbagai merk sepeda yang banyak dimiliki para onthelis antara lain merk Gazella (Belanda), Simplex (Belanda), Fongres (Belanda), Humber (Inggris) dan juga Raleidh (Inggris).
Sepeda kuno, menurut Tuti, sebagian besar memang diproduksi oleh Belanda. Dan sepeda kuno buatan Belanda termasuk yang banyak dicari onthelis maupun kolektor. Karena sepeda kuno buatan Belanda ini kokoh dan awet. Para onthelis itu pun mengaku tidak terlalu sulit merawat sepeda mereka. Perawatan rutin biasanya dilakukan dengan membersihkan dan memberi minyak pelumas di bagian rantai maupun bagian lain yang dirasa perlu.  – iik

#2 >> Ngonthel mania

Kesan santai dan enjoy terlihat saat kita melihat para onthelis ini sedang mengayuh pit atau sepeda kuno mereka. Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas kendaraan bermotor, yang seperti dikejar-kejar waktu, mereka justru terlihat tenang dan rileks.
Serasa menembus lorong waktu. Itulah yang dirasakan sebagian onthelis sepeda kuno saat mengayuh pedal pit mereka. Aktivitas kehidupan sehari-hari yang biasa berjalan cepat terkadang membuat orang kehilangan hal-hal istimewa yang secara tak sadar mereka lewatkan begitu saja. Tapi dengan bersepeda, momen-momen yang terlewatkan itu seolah bisa diulang lagi.
“Sehari-hari, kita kan sudah terbiasa dengan kehidupan yang berjalan serba cepat. Dengan mengayuh sepeda, kita bisa menikmati hal-hal yang seringkali terlewati dalam keseharian kita,” ujar Kesturi Haryunani P, yang mulai kesengsem ngonthel sekitar awal tahun 2007, kepada Espos, Rabu (1/4).
Belum lama memang ia menggeluti hobi barunya ini. Namun demikian, ia sudah bisa merasakan serunya bersepeda kuno rame-rame bersama komunitasnya, menyusuri jalanan di Kota Solo. Meski tergolong pehobi baru, tapi mahasiswi yang akrab disapa Ninok ini sudah bisa merasakan betul manfaat ngonthel menggunakan sepeda kuno. Baginya, ngonthel sepeda kuno serasa menembus lorong waktu.
Dengan bersepeda pula, ia mengaku bisa belajar tentang kearifan. “Menghargai yang tua, karena yang tua itu belum tentu usang. Selain itu, sekaligus beramah-tamah dengan orang-orang baru,” paparnya.
Dan rasa capek yang dialami ketika bersepeda pun seolah pupus, begitu mereka ngonthel bareng. Onthelis lainnya, Cecep, merasakan hal yang sama. Karena sudah telanjur hobi berat, warga Bekonang, Sukoharjo ini mengaku rasa capek saat bersepeda pun seolah pupus oleh rasa senang.
Obat stres
“Bersepeda menggunakan sepeda kuno membuat saya lebih enak melihat situasi sekeliling di sepanjang jalan yang dilalui. Selain itu, bersepeda ini kan sama saja dengan berolahraga. Dan juga sekaligus sebagai obat stres karena jenuh dengan aktivitas sehari-hari,” terang Cecep ketika ditemui Espos, di Jalan Srikatan Nomor 16, Kerten, Solo, Kamis (2/4).
Para onthelis sepeda kuno ini pun tak puas hanya bersepeda di dalam kota. Saking senangnya bersepeda, jarak jauh pun dilakoni. Beberapa onthelis mengaku pernah bersepeda hingga keluar kota. Salah satunya adalah Tuti, warga Makamhaji, Sukoharjo, yang pernah bersepeda bersama beberapa onthelis lainnya ke Yogyakarta.
Kesenangan juga telah membuat mereka berani mencoba tantangan untuk mengayuh rute semakin jauh, hingga ke luar kota. “Pernah ke Yogyakarta naik sepeda bersama yang lain. Saat itu, kami berangkat sekitar jam tiga pagi. Ya karena sudah senang ngonthel, jadi jarak jauh pun tidak masalah, asalkan kondisi memungkinkan,” terang Tuti.
Di samping menyalurkan hobi bersepeda, para onthelis tersebut ternyata juga mempunyai misi melestarikan keberadaan sepeda kuno, yang semakin sulit dicari di pasaran.
Bukan itu saja, mereka juga sekaligus membawa pesan menjaga lingkungan ini agar tidak semakin tercemar oleh polusi. Karena menurut mereka, selain menyehatkan, bersepeda juga tidak menimbulkan pencemaran.  – Oleh: Ivan Indrakesuma

#3 >> Bentuk komunitas, biar seru

Penyaluran hobi ngonthel jarang sekali dilakukan secara individu.
Biasanya, aktivitas itu dilakukan bersama komunitas mereka. Memang pada awalnya, masing-masing onthelis berjalan sendiri-sendiri. Setelah bertemu sesama pehobi, akhirnya mereka pun membentuk komunitas.
Pembentukan komunitas tidak lain adalah agar kegemaran mereka bisa dinikmati lebih seru dalam kebersamaan. Dengan terbentuknya komunitas itu, mereka pun bisa saling bertukar informasi, saling melengkapi kebutuhan yang diperlukan dan juga membantu masyarakat umum. Ada banyak komunitas sepeda kuno di Kota Solo dan sekitarnya, misalnya Sepeda Onthel Lawas Solo (SOLO), Solo Sepeda Kuno (SSK) dan komunitas lainnya.
Melalui komunitas itu, mereka bisa saling bertukar informasi onderdil bahkan sepeda yang dijual atau berbagai kegiatan dari masing-masing komunitas. Meski awaknya merupakan penggemar berat bersepeda, tetapi bukan berarti mereka tidak peduli dengan kondisi masyarakat pada umumnya. Seperti yang dilakukan komunitas onthelis SOLO. Ketua SOLO, Dian, mengatakan aktivitas komunitasnya tak hanya bersepeda secara rutin pada Minggu pagi dan Sabtu malam. Tetapi juga melakukan kegiatan sosial seperti bakti sosial maupun turut serta dalam memeriahkan berbagai even-even besar yang diselenggarakan di Kota Solo.
Selain itu, para onthelis ini juga membawa pesan untuk mengurangi pemanasan global. “Dengan bersepeda, otomatis mengurangi penggunaan bahan bakar dan mengurangi polusi. Dan penggunaan sepeda kuno juga termasuk salah satu upaya mengurangi penggunaan bahan bakar minyak yang menimbulkan pencemaran udara. Kami juga mengikuti kegiatan penanaman pohon dan even-even lain,” papar Dian.
Saat bersepeda bersama komunitasnya di jalan raya, para onthelis juga mempunyai aturan tersendiri. Aturan itu dimaksudkan agar mereka bisa bersepeda dengan nyaman, aman dan enjoy. Misalnya pengaturan berapa banyak mereka harus berjajar, demi keselamatan para pengguna jalan.
“Biasanya tergantung dari jumlah onthelis yang bersepeda. Tapi yang sering kami lakukan ya berjajar dua atau tiga. Kalau yang bersepeda sedikit kami atur berjajar dua,” kata pimpinan komunitas yang mempunyai situs di http://www.solokomunitas.wordpress.com ini.  – iik

sumber :  http://www.solopos.com/

edisi cetak SOLOPOS Edisi : 4/5/2009, Hal.I

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: