selamat jalan mbah Gesang Martohartono

selamat jalan mbah gesang

15 Responses to selamat jalan mbah Gesang Martohartono

  1. wong-cilik says:

    selamat jalan mbah….

    semoga mengalir dengan damai….

  2. rendra says:

    selamat jalan sang maestro…. semoga tetap dlm cahaya….

  3. heri agusti DeFOC says:

    selamat jalan mbah, semoga amal dan ibadahnya akan dibalas dg pahala yg berlimpah oleh Gusti Alloh…dan karya besarmu akan lestari dalam kenangan rakyat Nusantara

  4. solokomunitas says:

    Sepeda Ontel Iringi Jenazah Gesang ke Balai Kota
    Jum’at, 21 Mei 2010 – 10:03 wib

    Bramantyo – Trijaya

    SOLO- Jenazah almarhum Gesang Martohartono disemayamkan di Balai Kota Solo, Jalan Jenderal Sudirman pagi ini. Jenazah dibawa mobil ambulans Angkatan Darat dan diiringi puluhan sepeda ontel di belakangnya.

    Dari pantauan di lokasi, jenazah Gesang tiba sekira pukul 10.00 WIB di halaman Balai Kota, kemudian langsung dibawa ke Pendapi Gede Balai Kota Solo, Jumat (21/5/2010).

    Rencananya, pihak keluarga akan menyerahkan jenazah Gesang kepada Wali Kota Solo Joko Widodo, untuk kemudian mendapatkan penghormatan terakhir dari pemerintah maupun dari masyarakat.

    Setelah itu, barulah jenazah Gesang akan dibawa untuk dimakamkan di pemakaman keluarga di Pracimaloyo, Makam Haji, Sukoharjo, Jawa Tengah.

    Hingga kini, tampak sejumlah pejabat sudah menghadiri acara penghormatan tersebut. Tampak juga Menko Kesra Agung Laksono, artis senior Titiek Puspa, Waljinah, sejumlah artis keroncong, dan sejumlah pengusaha lokal. (uky)

    dari
    http://celebrity.okezone.com/read/2010/05/21/33/334933/33/sepeda-ontel-iringi-jenazah-gesang-ke-balai-kota

  5. solokomunitas says:

    Selamat jalan Gesang
    Jum’at, 21 Mei 2010 09:19:17

    Bengawan Solo, riwayatmu ini
    Sedari dulu jadi perhatian imani
    Musim kemarau tak brapa airmu
    Di musim hujan nanti meluap sampai jauh

    Mata airmu dari Solo, berkurung gunung seribu
    Air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut
    Itu perahu, riwayatnya dulu
    Kaum pedagang slalu naik itu perahu

    Syair lagu di atas akan tinggal kenangan, tapi akan tetap mengalun dan mengalir jauh… Namun, kini, bangsa Indonesia, para pencinta keroncong, dan terutama warga Kota Bengawan tengah berduka.

    Maestro keroncong yang juga pencipta lagu Bengawan Solo, Gesang Martohartono itu telah meninggal dunia pada usia 92 tahun di RS PKU Muhammadiyah Solo, Kamis (20/5) pukul 18.10 WIB, setelah sempat mendapat perawatan sejak Minggu (16/5) lalu.

    Rencananya jenazah Gesang akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Pracimalaya, Makam Haji Surakarta, Jumat (21/5).

    Sebelum berpulang, Gesang sempat berpesan kepada masyarakat untuk melestarikan keroncong sebagai bagian dari seni dan budaya Indonesia. “Pesan terakhir, beliau menyuruh melestarikan keroncong,” kata Yani Effendi, anak keponakan Gesang, di Solo, Jumat malam.

    Yani yang menunggui Gesang selama dirawat di rumah sakit itu, mengatakan, sejak Jumat siang Gesang meminta pulang ke rumahnya di Kemlayan, Solo.

    Lagu yang menggambarkan Solo dulu dan Solo sekarang itu memang akan tetap abadi, sebagaimana sungai yang telah melegenda ini. Dulu ketika zaman Mataram, sungai ini memang menjadi lalu lintas pedagang yang ke luar-masuk Kota Solo, airnya mengalir jernih sampai jauh. Kini airnya sering meluap ke perkampungan penduduk. Lagu itu tepat sebagai penggambaran kondisi saat ini.

    Belajar otodidak
    Pria kelahiran Kampung Kemlayan, Kota Bengawan, 1 Oktober 1917 ini lahir dari pasangan pengusaha batik. Gesang adalah anak kelima dari 10 bersaudara. Dia mempunyai nama kecil Sutardi. Ibu kandung Gesang meninggal ketika dia berusia lima tahun dan hanya sempat mengenyam bangku Sekolah Rakyat (SR) Ongko Loro sampai kelas V.

    Gesang belajar musik secara otodidak. Sejak usia 19 sudah bergabung dengan grup musik keroncong lokal dan pentas di berbagai tempat. Di Kampung Kemlayan ini pula Gesang mulai mengenal musik keroncong. Saat itu di Kemlayan terdapat kelompok musik keroncong yang menggunakan alat-alat sederhana. Lalu, dalam perjalanannya berkesenian, Gesang juga ikut berlatih dengan kelompok-kelompok keroncong di kampung lain, di antaranya ikut latihan di Kampung Sewu serta di Beton.

    Dengan sepeda onthel-nya dia mengunjungi tempat-tempat itu untuk latihan keroncong. Satu hal yang unik, meski Gesang ikut berlatih keroncong, sebagai penyanyi, kemudian menjadi pencipta lagu kondang, dia mengaku tak bisa memainkan alat musik selain seruling.

    Gesang kali pertama mencipta lagu berjudul Si Piatu. Lagu berisi kesedihan seorang anak yang tak mendapat kasih sayang orangtuanya, itu dibuat saat dia melihat kesedihan temannya yang lola (yatim piatu). ”Suatu saat saya melihat teman saya itu delog-delog (termenung) sendirian. Dia anak lola yang kemudian ngenger (menginduk) pada tetangga saya. Melihat itu saya terenyuh, lalu menggambarkan kesedihannya itu dalam lagu pertama saya. Lagu itu saya buat pada 1938,” kisahnya suatu kesempatan.

    Sedangkan lagunya yang melanglang sampai China dan Jepang, Bengawan Solo diciptakan pada 1940, pada suatu senja saat Gesang berada di tepi Sungai Bengawan Solo. Memang, diakuinya, Bengawan Solo pada waktu itu sungai yang masih indah dan menginspirasi proses kreatifnya dalam menciptakan lagu yang menjadi legendaris itu. Sementara, lagunya yang terakhir Caping Gunung diciptakan pada 1975.

    Menurut Gesang dalam buku Gesang Tetap Gesang (1986) karya T Wedy Utomo, dinyatakan bahwa lagu Bengawan Solo menggemparkan Kota Solo saat itu karena soal pakem yang tidak lazim dengan aliran musik keroncong pada masa itu. Boleh dibilang bengawan Solo jelek di mata golongan yang masih berpegang pada pakem. Sebaliknya, kawula muda menyukai lagu tersebut karena merupakan hal baru dalam musik keroncong.

    Lagu ini disukai banyak orang tidak hanya di Indonesia, khususnya masyarakat Solo. Bahkan sampai mancanegara, sehingga Gesang sempat berkunjung ke China maupun Korea Utara bersama Misi Kesenian Indonesia pada 1963, kemudian pada 1988, 1990, 1991 dan 1994 mendapat undangan untuk memperkenalkan musik keroncong di Jepang. Pada 1996 kembali mendapatkan kehormatan tampil dalam Malam Bengawan Solo selama dua malam berturut-turut di Kota Shanghai, China.

    Selamat jalan Sang Maestro Keroncong!

    Oleh Rochimawati
    HARIAN JOGJA
    & Pardoyo
    SOLOPOS/JIBI

    dari
    http://www.harianjogja.com/web2/beritas/detailberita/14935/selamat-jalan-gesangview.html

  6. sahidnugroho says:

    Saya sangat respek dengan Pemkot Solo yang telah mengurus pemakaman Almarhum Pak Gesang sang maestro musik keroncong sebagaimana layaknya seorang pahlawan. Ini benar-benar fenomena luarbiasa yang barangkali belum pernah terjadi di negeri ini. Memang nilai kepahlawanan tidak harus dinilai hanya dari andil dalam peperangan membela negara. Perjuangan untuk mengharumkan nama negara melalui misi dan produk kebudayaan sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Almarhum Pak Gesang juga bukanlah sesuatu yang murah dan mudah. Lagu Bengawan Solo yang populer di seluruh dunia adalah sebuah bukti yang lebih dari cukup untuk memberikan anugerah pahlawan nasional bagi Almarhum…

  7. heri agusti says:

    Nyuwun pangapunten Mas Solokomunitas.
    Monon koreksinya atas syair lagu Bengawan Solo, pada paragraf pertama, menurut catatan saya yg sudah beberapa tahun saya miliki adalah sebagai berikut :
    kata imani, di catatan saya : insani
    kata nanti, di catatan saya : air
    mana yg benar ?
    Selamat jalan Eyang Gesang
    Saya sangat setuju atas apresiasinya dari Bapak Sahid Nugroho………..Matur sembah nuwun.

  8. H.Iswartono,ST.MM says:

    Selamat jalan pak De Gesang.Doaku menyertaimu.Aku masih ingat , waktu aku masih kecil pernah diangkat menjadi anak bu de gesang dan diasuhnya beberapa lamanya aku tidak ingat.sesuai dengan kepercayaan orang jawa apabila seorang anak lahir dengan weton yg sama (senin paing) dengan ibundanya.Anak tersebut harus dibuang alias diasuh sama orang lain.Kebetulan depan rumahku gdi Gumunggung – Solo tidak jauh dari terminal Tirtonadi kediaman bu de Gesang.Dan alhamdulilah beliau menawarkan diri untuk mengasuhke beberapa lamanya aku lali.Nanti kita sambung lagi ya maaf , aku menangis

  9. heri agusti - DeFOC says:

    @pak Haji, terus ada kenangan apa yg sampai saat ini
    masih membekas dlm hati Pak Haji selama tinggal bersama keluarga Mbah Gesang? Ceritanya diterusin dong. Ya sudah jangan menangis….oh iya,mbah Gesang punya sepeda onthel nggak ya? Mau dilelang nggak? Boleh tuh jadi koleksi,….nuwun

  10. fietdjernit says:

    sELAMAT JALAN MBAH

    mbah bukan hanya milik solo
    mbah milik indonesia

  11. H.Iswartono,ST.MM says:

    Boeat mas Heri DeFOC.Kenanganku bersama pak de Gesang waktu kecil ,beliau orangnya sabar , rajin .Hobbi beliau adalah memelihara burung branjangan ,di dekat rumah ada kali atau sungai tempat beliau mencari capung dg memakai getah dan bambu.Tunggangan beliau motor honda 70,beliau tidak memiliki sepeda onthel

  12. heri agusti - DeFOC says:

    Nuwun sewu Pak Haji Is, terus itu syair lagu Bengawaan Solo yang benar yang bagaimana Pak Haji. Soalnya ini lagu abadi yg sangat perlu kita lestarikan, dan ada kepastian yg benar tentang kata dan kalimat dalam syairnya.
    Wah Om Solokomunitas lagi tidur nih ya, ayo bangkit, raih onthelmu ……he he he he

  13. H.Iswartono,ST.MM says:

    Kagem mas Heri, mengenai syairnya mas bisa nanya langsung sama mbak Ning yg masih tinggal di Gumunggung,bilang aja saya temannya pak Iswartono yg di bogor.Kalau ke Gumunggung bilang aja mbak Ning Gesang gitu mas.Sekalian salam dari aku ya

  14. heri agusti - DeFOC says:

    Kulo nuwun…..assalamualaikum wr wbrkth.
    Wah wong Solo masih pada tidur nih
    Nyuwun gunging pangapunten, ada tamu nggak diundang dari jauh…….we lah lagi pada nyiapkan onthelnya buat acara ke Jogya yah…..yo wis …….nuwun.

  15. Eddy - KOMBET Bekasi says:

    Kulo nuwun…..assalamualaikum wr wbrkth.

    Meh sedaya onthelis rumaos gadah sesambetan kaliyan Mbah Gesang.

    Kados pundi bade mboten rumaos gadah sesambetan kaliyan si-Mbah Gesang. Bilih wekdal sak sampunipun nggenjot/ngonthel sesarengan kaliyan rencang-rencang, lajeng sami lelenggahan wawan rembag sambung catur, saya rumaos pepak bilih sinambi mirengaken gending keroncong. Langkung utami ingkang dipun pirenganken menika gending keroncongipun Mbah Gesang, senaoso ingkang nyekaraken sanes si-Mbah piyambak.

    Nyuwun ngapunten bilih wonten lepat klintu anggen kula matur.

    Wa Salam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: