“hamemayu hayuning bhawana kanthi ngonthel”

March 24, 2012

berakar dari sebuah falsafah lama Jawa, yaitu “hamemayu hayuning bhawana” yang kurang lebih menjaga kelestarian bumi. sejalan berjalan waktu, tentu bumi juga semakin menua, sudah tentu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk turut menjaga kelestarian bumi ini demi keberlangsungan anak cucu kita semua. dengan bersepeda, kita usahakan bersama kelestarian bumi.

Kita jadikan bersepeda bagian hidup kita dalam bertransportasi, sebagai gaya hidup kita, sebagai rutinitas kita dengan bertujuan mengurangi emisi bahan bakar fosil yang tidak terbaharui dan semakin menipis. Bersepeda sebagai wujud aktif cinta terhadap lingkungan.

Komunitas Sepeda Onthel Lawas Solo (SOLO) memberikan dukungan untuk Kampanye Hemat Energi Earth Hour 2012, yaitu bersepeda dan mematikan listrik yang tidak digunakan pada tgl 31 Maret 2012, mulai pukul 20.30 – 21.30 waktu setempat.

Advertisements

anak dewa, ber KTP Solo

March 21, 2012
Image

hercules 01

Image

hercules 02 emblem depan

Image

hercules 03

Image

hercules 04 emblem belakang

Image

hercules 05 nomor rangka AC1066??

Image

hercules 06 anak kunci

Image

hercules 07 supitan belakang

Image

hercules 08 pedal

Image

hercules 09 3 speed

setelah sekian waktu tersembunyi diantara riuh opini apakah hercules ini dibuat di inggris atau di malabar (india) ada fakta yang memang begini adanya, mungkin rekan-rekan di sini jutru akan lebih bisa menjelaskan bagaimana mengenai hercules 24″ di atas. sebuah sepeda dengan petunjuk toko Tik Swie Hien dari Pasar Besar Solo 18.

photo by boocan.


[Sepeda Onthel Lawas Solo] >> klasik project 2011

March 21, 2012


CAGAR BUDAYA: Anak Muda Pelihara Cagar Budaya

March 9, 2012

Selasa, 21/2/2012

Tjojoedan, sekarang Jl. Yos Sudarso 1937, Asia Maior
Sepeda menjadi saksi perjalanan waktu kota Solo

Belasan sepeda tua yang berjajar di depan gerbang Balaikota Solo tiap Sabtu malam itu belum seberapa banyak. Sekilas, para pemiliknya hanya bersantai di samping sepeda-sepedanya layaknya ratusan anak muda lain di sekitar mereka. Namun di balik itu, ada yang jauh lebih berarti bagi mereka di balik sepeda tua itu.

Sepeda tua bukan seperti sepeda fixie atau sepeda angin biasa. Bagi mereka, sepeda tua itu telah menjadi alat gerakan pelestarian sejumlah kawasan dan bangunan bersejarah yang terhampar di Kota Solo. Dengan sepeda tua, mereka mengajak orang untuk mengenal dan peduli bahwa kota ini punya ratusan jejak sejarah yang terlupakan.

“Selain bersenang-senang dengan sepeda tua, kita ingin mempromosikan kota. Kota ini punya banyak sekali tempat bersejarah, tapi banyak dari kita yang tidak kenal,” kata Dian Ariffianto Budi Susilo, arsitek yang selama ini dikenal sebagai Ketua Onthelis Solo, Sabtu (18/2/2012) malam.

Berawal dari kegemaran berjalan-jalan dengan sepeda, tercetuslah ide untuk ikut serta dalam pelestarian bangunan dan kawasan cagar budaya. Dengan sepeda tua, mereka menelusuri kota dan blusukan ke kawasan-kawasan tua. Di Solo, ada banyak objek yang biasa mereka kunjungi, mulai dari bangunan tua, museum, pasar-pasar tua, kampung batik, kampung-kampung perajin blangkon, sandal kulit hingga tak lupa mengunjungi kawasan bantaran sungai.

Saat berkunjung inilah mereka menemukan banyak hal. Berbincang dengan para penduduk setempat dan berbagai literatur membuat mereka bukan hanya tahu tentang sejarah, tapi juga masalah perkotaan yang kini mengancam. Misalnya bangunan-bangunan yang terancam rusak dimakan usia, kampung yang terdesak modernisasi dan terhimpitnya sepeda atau becak oleh kendaraan bermotor.

“Dalam pelestarian heritage, arahnya adalah sejarah, budaya dan transportasi,” ujar Dian. “Sepeda tua itu merekam sejarah. Mereka datang ke sini dibawa oleh orang kolonial dan mengenal teknologi sepeda jauh sebelum kita.”

Begitulah mimpi tentang kota tua dan sepeda itu berasal. Bukannya ingin mengembalikan kenangan lama, namun sepeda itu menjadi simbol pelestarian cagar budaya. Berbagai ritual pun dilakukan seperti bersepeda ke tempat-tempat tua, Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti dan bahkan makam Bonoloyo. Untuk melestarikan tradisi Jawa, mereka pun menggabungkannya dengan tradisi sepeda. Setiap tahun menjelang Suro, mereka melakukan ritual jamasan sepeda tua di depan Balaikota. Bukan bermaksud macam-macam, mereka hanya menunjukkan penghargaan pada sepeda tua yang bersejarah.

Aktivitas itu pelan-pelan dikenal luas oleh masyarakat di luar Solo. Melalui berbagai forum online, banyak pecinta jejak sejarah yang tertarik dengan aktivitas ini dan menyempatkan diri datang ke Solo. Salah satunya adalah tiga orang Belanda yang belum lama ini datang ke Solo. Para onthelis ini memang sudah menyiapkan “paket perjalanan” bagi orang Belanda tersebut berkeliling kota. Dengan naik sepeda, mereka diantar bersama ke berbagai pusat kesenian, kampung batik Laweyan, Kauman dan sebagainya.
“Jadi kita tunjukkan bahwa memelihara heritage itu simpel dan enggak berat.”

…………………………….

JIBI/SOLOPOS/Adib Muttaqin Asfar
Adib Muttaqin Asfar

sumber :
http://www.solopos.com/2012/lifestyle/fokus-lifestyle/cagar-budaya-anak-muda-pelihara-cagar-budaya-164299

juga bisa dilihat di
http://www.harianjogja.com/2012/lifestyle/fokus-lifestyle/cagar-budaya-anak-muda-pelihara-cagar-budaya-164299