CAGAR BUDAYA: Anak Muda Pelihara Cagar Budaya

Selasa, 21/2/2012

Tjojoedan, sekarang Jl. Yos Sudarso 1937, Asia Maior
Sepeda menjadi saksi perjalanan waktu kota Solo

Belasan sepeda tua yang berjajar di depan gerbang Balaikota Solo tiap Sabtu malam itu belum seberapa banyak. Sekilas, para pemiliknya hanya bersantai di samping sepeda-sepedanya layaknya ratusan anak muda lain di sekitar mereka. Namun di balik itu, ada yang jauh lebih berarti bagi mereka di balik sepeda tua itu.

Sepeda tua bukan seperti sepeda fixie atau sepeda angin biasa. Bagi mereka, sepeda tua itu telah menjadi alat gerakan pelestarian sejumlah kawasan dan bangunan bersejarah yang terhampar di Kota Solo. Dengan sepeda tua, mereka mengajak orang untuk mengenal dan peduli bahwa kota ini punya ratusan jejak sejarah yang terlupakan.

“Selain bersenang-senang dengan sepeda tua, kita ingin mempromosikan kota. Kota ini punya banyak sekali tempat bersejarah, tapi banyak dari kita yang tidak kenal,” kata Dian Ariffianto Budi Susilo, arsitek yang selama ini dikenal sebagai Ketua Onthelis Solo, Sabtu (18/2/2012) malam.

Berawal dari kegemaran berjalan-jalan dengan sepeda, tercetuslah ide untuk ikut serta dalam pelestarian bangunan dan kawasan cagar budaya. Dengan sepeda tua, mereka menelusuri kota dan blusukan ke kawasan-kawasan tua. Di Solo, ada banyak objek yang biasa mereka kunjungi, mulai dari bangunan tua, museum, pasar-pasar tua, kampung batik, kampung-kampung perajin blangkon, sandal kulit hingga tak lupa mengunjungi kawasan bantaran sungai.

Saat berkunjung inilah mereka menemukan banyak hal. Berbincang dengan para penduduk setempat dan berbagai literatur membuat mereka bukan hanya tahu tentang sejarah, tapi juga masalah perkotaan yang kini mengancam. Misalnya bangunan-bangunan yang terancam rusak dimakan usia, kampung yang terdesak modernisasi dan terhimpitnya sepeda atau becak oleh kendaraan bermotor.

“Dalam pelestarian heritage, arahnya adalah sejarah, budaya dan transportasi,” ujar Dian. “Sepeda tua itu merekam sejarah. Mereka datang ke sini dibawa oleh orang kolonial dan mengenal teknologi sepeda jauh sebelum kita.”

Begitulah mimpi tentang kota tua dan sepeda itu berasal. Bukannya ingin mengembalikan kenangan lama, namun sepeda itu menjadi simbol pelestarian cagar budaya. Berbagai ritual pun dilakukan seperti bersepeda ke tempat-tempat tua, Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti dan bahkan makam Bonoloyo. Untuk melestarikan tradisi Jawa, mereka pun menggabungkannya dengan tradisi sepeda. Setiap tahun menjelang Suro, mereka melakukan ritual jamasan sepeda tua di depan Balaikota. Bukan bermaksud macam-macam, mereka hanya menunjukkan penghargaan pada sepeda tua yang bersejarah.

Aktivitas itu pelan-pelan dikenal luas oleh masyarakat di luar Solo. Melalui berbagai forum online, banyak pecinta jejak sejarah yang tertarik dengan aktivitas ini dan menyempatkan diri datang ke Solo. Salah satunya adalah tiga orang Belanda yang belum lama ini datang ke Solo. Para onthelis ini memang sudah menyiapkan “paket perjalanan” bagi orang Belanda tersebut berkeliling kota. Dengan naik sepeda, mereka diantar bersama ke berbagai pusat kesenian, kampung batik Laweyan, Kauman dan sebagainya.
“Jadi kita tunjukkan bahwa memelihara heritage itu simpel dan enggak berat.”

…………………………….

JIBI/SOLOPOS/Adib Muttaqin Asfar
Adib Muttaqin Asfar

sumber :
http://www.solopos.com/2012/lifestyle/fokus-lifestyle/cagar-budaya-anak-muda-pelihara-cagar-budaya-164299

juga bisa dilihat di
http://www.harianjogja.com/2012/lifestyle/fokus-lifestyle/cagar-budaya-anak-muda-pelihara-cagar-budaya-164299

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: