2011 anual report solokomunitas.wordpress.com

January 1, 2012


Crunchy numbers
In 2011, there were 20 new posts, growing the total archive of this blog to 79 posts. There were 173 pictures uploaded, taking up a total of 15mb. That’s about 3 pictures per week.

The busiest day of the year was June 4th with 235 views. The most popular post that day was Tampil Klasik Dengan Sepeda Plato.

The top referring sites in 2011 were:
– sepeda.wordpress.com
– sepedatua.com
– facebook.com
– kugowesonthelku.com
– sepedaonthel.com

Some visitors came searching, mostly for
– fixie solo,
– sepeda ontel,
– klithikan sepeda onthel,
– simplex cycloide, and
– sepeda onthel lawas solo.

Most visitors came from Indonesia. The United States & Malaysia were not far behind

These are the posts that got the most views in 2011. You can see all of the year’s most-viewed posts in your Site Stats.

1 Tampil Klasik Dengan Sepeda Plato 5 comments June 2011
2 fixie, gelora bermuda Solo 22 comments November 2010
3 galery SOLO : Simplex Cycloide 27 comments March 2009
4 FONGERS “INTERNATIO” D-55 KADO ULTAH DARI NENEK 22 comments April 2010
5 launching bus wisata WERKUDARA, solo 3 comments April 2011

finally, we say sorry if many mistakes in me and thanks fully for all apreciations who given from all visitors and contributors. we no say good bye, but see you in 2012.

admin solokomunitas.wordpress.com


XPO – BJARKE BIKES THROUGH DANISH PAVILION

September 27, 2011

XPO – BJARKE BIKES THROUGH DANISH PAVILION from BIG on Vimeo.

from Bjarke Ingels Group
We reintroduce the bicycle in Shanghai as a symbol of modern lifestyle and sustainable urban development. The Danish Pavilion and the entire exhibition can be experienced on Danish designed city bikes that are free for the guests to use. The building is designed as a double spiral with pedestrian and cycle lanes taking you from the ground and through curves up to a level of 12 meters and down again. In this way you can experience the Danish exhibition both inside and outside at two speeds – as calm stroll with time to absorb the surroundings or as a bicycle trip, where the city and city life drift past.


esok hari, haruskah kita pergi jauh untuk belajar???

September 24, 2011

memang tulisan ini saya sekedar copy paste dari tulisan yang diposting seorang kawan…
tapi perlu kita renungkan… sebelum semua terlambat… atau memang inikah kita??? yang hanya memikirkan hari ini, lalu bagaimana tentang esok hari??? silakan untuk mengcopy, re-post tulisan ini….

pit kebo memang punya daya tarik layaknya magnet. Bak barang antik pit kebo terus dan terus diburu baik untuk moda transportasi, koleksi, klangenan atau sebagai komoditi perdagangan.
Tidak bisa dipungkiri, pit kebo mempunyai sejarah yg panjang di negri ini, mulai di jaman penjajahan, pergerakan, kemerdekaan, orla, orba, hingga jaman reformasi skrg ini. Sebagai bagian dari sejarah pit kebo punya “hak” menjadi benda cagar budaya layaknya kraton, Loji Gandrung, Masjid Agung, Radya Pustaka, Mangkunegaran, Bank Indonesia dll.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pit kebo dijual ke luar negri. Memang tidak ada larangan akan hal tersebut. Layaknya hukum dagang “ada permintaan pasti ada penawaran dan diikuti ada transaksi. Ekspor pit kebo memang menjanjikan keuntungan yg signifikan, sampai kapan?sampai pit kebo habis di negeri ini?sampai anak cucu kita hanya bisa mendengar pit kebo dari dongeng pengantar tidur tanpa mereka bisa mencolek, meraba kemudian menaiki dan dionthel? atau mereka tahu dari browsing lewat PC atau smartphone?atau ketika menyusun desertasi harus ke luar negri dulu sekedar mengamati pit kebo?
Bolehlah menganggap ekspor pit kebo sebagai isyu, tapi apakah rela kejadian-kejadian buruk masa lalu terulang lagi hingga mencoreng nama baik?
Lantas, siapakah yang patut menjaga kelestarian pit kebo?

(tulisan ini hanya sekedarnya aja laiknya coretan dinding yg setengah org nganggep vandalis)


Beatles On Bikes (Help! movie scene)

September 14, 2011


snap shot Pameran Sepeda Onthel Lawas – De Oude Fiets @ SOLO

August 4, 2011

This slideshow requires JavaScript.

photo courtesy ©Fotopoto Ayik

http://www.facebook.com/profile.php?id=100001362417237

semua file yang ada dalam postingan ini adalah memiliki hak cipta yang melekat ©Fotopoto Ayik
diharap mencantumkan sumber untuk penggunaan kembali, dan tidak untuk kepentingan komersial…


snap shot the other side – De Oude Fiets @ SOLO

August 3, 2011

This slideshow requires JavaScript.

another side untuk acara De Oude Fiets di kota Solo, bersama rekan-rekan Sepeda Onthel Lawas Solo.
yang digelar dari tanggal 23-27 Juli 2011 di Bentara Budaya, Balai Soedjatmoko.


kliping berita, De Oude Fiets

July 26, 2011

[01]
Komunitas sepada tua kagumi Solo
24 Juli 2011

http://www.soloposfm.com/2011/07/komunitas-sepada-tua-kagumi-solo/

Solo [SPFM], Sejumlah pemerhati, kolektor dan peneliti sepeda tua dari Belanda, mengaku cukup antusias dengan keberadaan komunitas sepeda tua di Solo, yang justru digerakkan oleh kalangan muda. Hal tersebut diungkapkan oleh salah seorang kolektor sepeda tua yang juga tergabung dalam KITLV-Royal Netherlands Institue  dan Club  de Oude Fiets Belanda, Piet Munsters, di sela kegiatan Heritage Strack berkeliling Solo, Minggu (24/7). Menurut Piet, kondisi ini jauh berbeda dengan Belanda, dimana yang menyukai sepeda tua hanyalah mereka dari kalangan yang sudah tua. Piet menambahkan, semangat generasi muda Solo ini patut dicontoh negara lain. Sebab kecintaan terhadap sepeda, berarti kecintaan terhadap sejarah dan budaya bangsa. Dalam kesempatan ini, Piet juga cukup terkesan dengan keberadaan sepeda tua Gazelle yang ada di Indonesia, yang terbilang unik sebab dibuat sekitar tahun 1910.

Piet bersama tiga rekannya mengunjungi Solo selama 2 hari sejak kemarin, dalam rangkaian roadshow peringatan 116 tahun hadirnya sepeda di Indonesia. Kegiatan yang digagas Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti)  bekerja sama dengan Cultural & Development, Kedutaan Besar Belanda, KITLV-Royal Netherlands Institue, club  de Oude Fiets Belanda ini, selain seminar juga digelar studi literasi sepeda, sarasehan hingga pameran foto, di Balai Soedjatmoko.[SPFM/dev]

[02]
Sepeda Onthel

empat tamu istimewa bagi onthelis Indonesia

JIBI/SOLOPOS/Dwi Prasetya
SEPEDA ONTHEL- Sejumlah turis asing [duta budaya sepeda dari Belanda] mengendarai sepeda onthel di halaman Museum Radya Pustaka Solo, Minggu (24/7/2011). Dalam rangka ulang tahun komunitas Sepeda Onthel Lawas Solo, digelar acara penjelajahan ke sejumlah tempat penting di Solo dengan mengendarai sepeda.

http://www.solopos.com/2011/feature/sepeda-onthel-108434

[03]
Nostalgia Sepeda Onthel

Pameran sepeda kuno dibuka di Surakarta 23-24 Juli 2011. Pameran ini mengobati kangen para pencinta sepeda ontel produksi tahun 1930 sampai 1970.
  • Fajar Sodiq / Angga Haksoro
  • 23 Juli 2011

VHRmedia, Surakarta – Sekitar 30-an sepeda kuno buatan tahun 1930 sampai 1970 dipamerkan dalam “De Oude Fiets: Peringatan 116 Tahun Budaya Bersepeda Mewarnai Indonesia” di Balai Soedjatmoko, Surakarta.

Panitia pameran Alvin Agung mengatakan, sepeda lekat dengan perjalanan sejarah Indonesia. “Pameran ini sebagai pembelajaran kepada masyarakarat agar sepeda juga bisa membudaya. Sepeda juga lekat dengan isu global warming,”kata Alvin Agung, Sabtu (23/7).

”Ada beberapa karya foto yang merupakan koleksi dari KITLV-Royal Netherlands Institute yang ikut dipamerkan. Misalnya, foto Presiden Soekarno yang naik sepeda ontel saat mobilnya rusak pada kunjungan ke Belanda tahun 1951. Ada juga foto ketika pertama kali sepeda ontel masuk ke Indonesia,” kata Alvin.

Menurut Ketua Komunitas Sepeda Onthel Lawas Solo (SOLO), Dian ABS, beberapa komunitas mulai melirik peluang wisata sepeda kuno. Besok mereka merencanakan wisata perjalanan jalur haritage Surakarta. “Hadir dalam acara ini 4 duta kebudayaan dari Belanda yang merupakan ahli sepeda tua,” ujar Dian.

Komunitas yang terlibat dalam pameran ini adalah Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI), Cultural & Development -Kedutaan Besar Belanda, KITLV-Royal Netherlands Institue, Club  de Oude Fiets Belanda, dan Komunitas Sepeda Onthel Lawas Solo (SOLO). (E1)

Foto: VHRmedia/Fajar Sodiq

http://m.vhrmedia.com/detailmobile.php?.e=3519


SOLO MENARI 24 JAM, world dance day 29 april 2010

May 1, 2010

29 april 2010, kembali dirayakan sebagai hari tari dunia. Tanggal 29 april 1727 awalnya adalah hari lahirnya seorang tokoh ballet modern bernama Jean-Georges Noverre. Dan pada tahun 1982, UNESCO mencanangkan sebagai hari tari sedunia. Sementara pada tahun 2010 ini, di Solo kembali digelar sebuah event kota yang melibatkan kurang lebih 2000 penari dari puluhan institusi maupun komunitas dalam rangkaian acara “Solo Menari 24 Jam” dengan tema “Reaching for Equality, Compassion, and Tollerance” atau “Menuju pada Kesetaraan, Kebersamaan, dan Toleransi”.

Acara ini adalah pergelaran keempat di kota Solo. “Solo Menari yang digelar di empat titik sepanjang Slamet Ryadi Solo dan kampus Institut Seni Indonesia Surakarta ini  berjalan sangat meriah. berlangsung dari hari Kamis 29 April 2010 mulai pukul 07.00 dan berakhir Jumat 30 April 2010 pukul 07.00. Sementara sekitar 2000an peserta yang memeriahkan acara menari secara bergantian, ada empat penari yang memang menari selama 24 jam penuh, penari-penari tersebut adalah Luluk Ari Prasetyo, Havid Ponk Zakaria, Muslimin Bagus Pranowo, dan Darlene Litaay.

Sepeda Onthel Lawas Solo, turut menyemarakkan acara Solo Menari 24 Jam kali ini. Sedari dibukanya acara di Zona Solo Square, kemudian di Sriwedari, Pasar Windujenar Ngarsapura, Gladag, dan kemudian menuju kampus Institut Seni Indonesia. Pada setiap transisi antar zona, penari diarak dengan mengendarai kereta kuda, dan juga mobil hias dan diiringi arak-arakan sepeda onthel. Seggenap peserta yang terlibat mengenakan atribut menari, begitu juga para polisi dan petugas yang turut mengatur lalu lintas di sepanjang jalan Slamet Riyadi dan menuju kampus ISI Surakarta.

Sepeda Onthel Lawas Solo bersiap untuk Solo Menari 24 Jam

bersama walikota bapak Joko Widodo, dalam acara pembukaan

lakon "rama tundhung" di zona solo square oleh mahasiswa ISI Surakarta

Sepeda Onthel Lawas Solo dalam venue acara zona Solo Square

dan rakyat yang bersukaria sekembalinya Rama

Sepeda Onthel Lawas Solo di zona sriwedari

Sepeda Lawas diantara ratusan penari

berita terkait:

Sepeda Onthel Lawas Solo (SOLO) Meriahkan Solo Menari 24 Jam

2.000 Penari di Hari Tari Dunia

24 Jam Nonstop Menari Untuk Meriahkan Hari Tari se-Dunia

Hari Tari Sedunia, Solo Menari 24 Jam


Grebeg Sudiro 2010, Sudiroprajan Solo

February 14, 2010

sedekah bumi malam sebelum puncak acara

gunungan sedekah bumi

Grebeg Sudiro adalah event di Kampung Sudiroprajan, di mana Pasar Gede sebagai salah satu simbol heritage kota Solo berada. Akan tetapi event ini bisa dikatakan merupakan event kota Solo yang memang diadakan pada tiap tahunnya.

Sepeda Onthel Lawas Solo cucuk lampahan

selama kirab grebeg

grebeg sudiro "kebhinekaan dalam kebersamaan"

srawung reog - barongsai

kesenian 5 gunung mengikuti kirab grebeg sudiro

kesenian 5 gunung mengikuti kirab grebeg sudiro

Seorang tokoh masyarakat Kampung Sudiroprajan, Sri Harjo, mengatakan, Bok Teko telah menjadi ikon kampung itu. Masyarakat kampung itu, katanya, sejak relatif lama mewujudkan pembauran antara warga pribumi, Jawa, dengan keturunan Tionghoa.
“Ada mitos bahwa di Kampung Mijen, Kelurahan Sudiroprajan, tutup teko pemberian Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Pakoe Buwono X, jatuh di jembatan sungai kecil yang melintas kawasan tersebut. Tetapi saat dicari tidak ditemukan. Selanjutnya jembatan itu dinamakan Bok Teko. Hingga saat ini masih ada beberapa warga yang sering berdoa di tempat itu,” katanya. (MI)

Tidak mengherankan jika dalam acara ini menyajikan kebudayaan dengan latar belakang yang beragam karena mengingat kampung Balong yang merupakan salah satu kampung pecinan di Surakarta, dan juga Pasar Gede yang merupakan salah satu simbol keberadaan kerajaan Surakarta Hadiningrat. Senada dengan tema yang diusung dalam acara tersebut, “Kebhinekaan dalam Kebersamaan”

Pada acara Grebeg Sudiro ini beragam acara yang digelar selama kurang lebih satu minggu yang puncak acaranya pada hari Minggu, 7 Februari 2010 dengan mengarak gunungan 4000 kue keranjang, barongsai, liong, reog, kesenian lima gunung, pawang geni, kirab lampion. Dan tentunya iringan Sepeda Lawas Solo sebagai “cucuk lampah”. Acara kirab sendiri diawali dengan berkumpul pada pukul 14.00 di sepanjang Jalan Kapten Mulyadi, bendera start dikibarkan Wakil Walikota Surakarta di depan Pasar Gede. Selanjutnya iringan kirab menyusuri jl. Sudirman – jl. Mayor Sunaryo – jl. kapten Mulyadi – jl. R.E. Martadinata – jl. Cut Nyak Dien – jl. Ir. Juanda – jl. Urip Sumoharjo – kembali di depan Pasar Gede.

suasana di depan pasar gede dilanjutkan menyalakan lampion "bok teko"


stay on pedals

July 30, 2009

stand alone

stand alone

setia

setia
solonese trafic 01
solonese trafic 01
solonese trafic 02, kalah cepet

solonese trafic 02, kalah cepet

keep movin

keep movin

get d light

get d light

at d gate 01

at d gate 01
at d gate 02

at d gate 02

at d gate 03

at d gate 03

shadow 03 @ alun-alun utara jogja

shadow 03 @ alun-alun utara jogja