The Holstee Manifesto: Lifecycle Video

January 12, 2012

Advertisements

Tampil Klasik Dengan Sepeda Plato

June 4, 2011

Jakarta sudah semakin ramah terhadap para pengendara sepeda. Di beberapa bagian kota bahkan sudah disediakan jalur khusus sepeda, yang telah jadi salah satu pilihan kendaraan sebagian orang.

Beberapa tahun terakhir, sepeda fixie (singkatan dari fixed-gear bicycle) menjadi pilihan sepeda yang paling populer. Namun kini sepeda plato juga bisa menjadi pilihan unik. Seperti apakah bentuk sepeda plato yang dikenal juga dengan “Dutch Bike” ini?

Sepeda plato sekilas tampak seperti sepeda ontel namun dengan rangka yang lebih ringan serta ukuran diameter ban lebih kecil. Jika biasanya sepeda ontel memiliki ban berdiameter 28 inci, sepeda plato memilki ban dengan diameter 26-27 inci.

Sepeda plato cocok bagi Anda yang menyukai tampilan klasik. Bagi wanita, sepeda ini juga terkesan lebih girly— apalagi dengan tambahan keranjang di bagian depannya.

Kini banyak bengkel sepeda yang menyediakan jasa merakit sepeda plato. Anda bisa memilih kombinasi warna, ban dan aksesori yang disukai. Salah satu bengkel sepeda sepeda yang menyediakan jasa merakit sepeda adalah Bamboo Bike yang terletak di Jl. Bambu Apus Raya No. 33 Jakarta Timur.

Yuk gowes!

 

source:

http://id.custom.yahoo.com/weekend-edition/belanja-artikel/article-tampil-klasik-dengan-sepeda-plato-413


Mengembalikan Atmosfer Bersepeda…

February 6, 2009

“Kami ingin memiliki bargaining power ke pemerintah agar pengguna sepeda memiliki posisi sederajat dengan pengguna alat transportasi lain,” kata Bagus Satrio, Panitia Temu Onthelis 2007 dalam sambutan singkatnya, Jumat malam, pertengahan November, di Taman Budaya Yogyakarta.

Malam itu merupakan pembukaan kegiatan yang diikuti oleh semua pencinta sepeda—khususya sepeda kuno atau tua—dari berbagai daerah di Tanah Air. Selain pameran sepeda berbagai merek yang mencapai 120 unit, juga digelar kegiatan lain, seperti berkeliling ke sejumlah kawasan di Kota Yogyakarta dengan mengendarai onthel.

Adalah Podjok salah satu komunitas pencinta sepeda di Kota Yogyakarta dan sekitarnya yang berinisiatif menyelenggarakan kegiatan ini. Selain dalam rangka ulang tahunnya yang pertama, kegiatan itu juga ditujukan untuk menyadarkan semua pihak termasuk pemerintah akan pentingnya sepeda.

Bagaimana tidak, kondisi saat ini sudah jauh berbeda dengan 20-30 tahun lalu. Selain polusi yang makin menjadi, hampir semua ruas jalan kian sesak. Itu terjadi bukan lantaran disebabkan oleh sepeda yang disukai Bagus Satrio dan kawan-kawan, tetapi perkembangan zaman yang menuntut kemudahan sehingga meninggalkan segala sesuatu yang dinilai masih memiliki banyak kekurangan.

Alat transportasi yang ditemukan Baron Van Draise de Sauerbrun (1817) itu pun makin terpinggirkan. Serbuan kendaraan bermotor kini tidak lagi hanya terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, tetapi juga di Yogyakarta yang notabene pernah dikenal sebagai “surganya” para pengendara sepeda.

Keelokan jalan-jalan di kota pelajar yang pada tahun 1970-an dan 1980-an dihiasi sepeda pun luntur. Lihat saja pada jam sibuk, hampir semua ruas jalan disesaki kendaraan bermotor. Bahkan, lajur paling kiri—lebar tak lebih dari 1,5 meter—yang semestinya diperuntukkan bagi sepeda (di beberapa lokasi ada gambar sepeda pada aspal) pun tidak tersisa.

Untungnya, di daerah istimewa ini masih ada sejumlah wilayah yang memberi porsi lebih bagi para penggemar atau bahkan orang yang karena kondisi ekonomi terpaksa menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama. Lihat saja sejumlah ruas jalan di Kabupaten Bantul yang berada di sisi selatan Kota Yogyakarta, kondisinya pasti lain dengan ruas jalan di Yogyakarta atau Sleman. Tiap pagi dan sore, ribuan pengendara sepeda di sepanjang Jalan Parangtritis, Jalan Imogiri Barat, Imogiri Timur, atau Jalan Bantul, tampak berbaris rapi dengan kedua kaki bergerak dinamis mengayuh pedal. Irama lajunya begitu terasa, layaknya orang yang siap menghadapi hari.

Sangat berbeda

Ini sangat berbeda dengan pengendara kendaraan bermotor. Munculnya berbagai iklan di media massa yang “mendesak” konsumen dengan produk “kendaraan tercepat”, “yang lain ketinggalan”, dan “teknologi terbaru” telah memengaruhi jiwa pemakai jalan yang sebetulnya belum siap benar secara mental.

Guru besar Magister Sistem dan Teknik Transportasi (MSTT) Universitas Gadjah Mada, Munawar, mengatakan, belum semua pengguna jalan di DIY memahami benar prinsip berkendara yang aman dan memerhatikan orang lain. Untuk itu, cara-cara mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) perlu diperketat dengan pemahaman cara berkendara yang benar. Jadi bukan hanya sebatas bisa naik sepeda motor, kemudian mendapatkan SIM.

Melihat fenomena ini, tak heran kalau kemudian Ketua Taman Budaya Yogyakarta Dian Anggraeni—yang juga hadir dalam pembukaan Temu Onthelis 2007—menyebut, ketika melihat sepeda, gambaran atau citra yang muncul saat ini adalah sebuah kearifan, bukan hanya seonggok alat transportasi biasa.

“Ketika melihat di Malioboro ternyata ada jejeran sepeda, maka ini menjadi sangat unik dan menyentuh,” ujarnya. Maklum, menurut pandangan Dian, (mungkin) Malioboro—sebagai salah satu jalan yang sangat terkenal di Yogyakarta—saat ini jauh berubah. Selain aktivitas pedagang dan wisatawan, Malioboro kini juga sesak oleh kendaraan bermotor.

Menurut Dian, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengembalikan kondisi yang ada. Karena di satu sisi, karena perkembangan, produsen kendaraan bermotor terus berinovasi dan membombardir khalayak dengan berbagai tawaran menggiurkan. Lihat saja, berapa persen media iklan di Kota Yogyakarta dan sekitarnya berisi kemudahan untuk mendapatkan sepeda motor teknologi terbaru dengan persyaratan yang ringan “hanya dengan uang Rp 900.000 sudah dapat membawa pulang motor baru”.

Sebagai gambaran, data tahun 2004, pertumbuhan sepeda motor mencapai 38 pesen, jauh meninggalkan pertumbuhan prasarana jalan yang hanya enam persen. Dalam lima tahun terakhir, perkembangan kendaraan bermotor di DIY rata-rata 11,9 persen tiap tahun. Pertambahan kendaraan bermotor baru mencapai 83.761 unit per tahun, di mana lebih dari 90 persen di antaranya sepeda motor. Adapun pertambahan roda empat hanya 7.853 unit per tahun.

Sebuah angka yang besar tentunya, mengingat luas provinsi DIY hanya 3.185,80 km2. Itupun, persebaran kendaraan bermotor tidak merata. Mereka lebih banyak terkonsentrasi di perkotaan, seperti di Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Berdasarkan data Kepolisian Daerah DIY, jumlah kendaraan bermotor terbanyak berada di Yogyakarta, yaitu 275.590 unit atau 28,23 persen dari total jumlah kendaraan bermotor (2005).

Masih lebih banyak

Meski pengguna sepeda di DIY perlahan digeser oleh kendaraan bermotor, anggapan Yogyakarta adalah barometer sepeda di Tanah Air masih melekat. Ketua Umum Podjok Towil mengatakan, banyak pencinta sepeda di Tanah Air yang menganggap Yogyakarta masih sebagai gudang sepeda. “Saat ini, jumlah sepeda yang ada di Yogyakarta masih lebih besar dibanding dengan kota lain, seperti Bandung dan Jakarta,” ujarnya.

Data pasti jumlah pemilik sepeda memang tak ada, tetapi Podjok sendiri memiliki lebih dari 350 anggota dari berbagai kalangan. “Kami berharap pencinta sepeda tidak hanya terbatas 1.300-an orang, sebagaimana peserta Temu Onthelis 2007. Kami berharap sepeda bisa memiliki ruang tersendiri,” kata Towil.

Untuk itu, selain memperkenalkan kepada masyarakat bahwa sepeda masih menjadi alat transportasi primadona, para penggemar sepeda ini juga meminta kepada pemerintah agar memberikan perhatian, terutama menyediakan sarana bagi sepeda yang kian sempit.

Menurut Towil, sepeda masih menjadi alat transportasi yang menjanjikan. Selain bebas polusi, sepeda juga murah. Alat transportasi ini akan menjadi salah satu alternatif di tengah isu krisis energi. “Ke depan, harga bahan bakar pasti naik lagi,” ujarnya.

Ananta Heri, salah satu perupa yang juga kolektor sepeda tua, berharap rekan-rekannya tidak hanya sekadar mengoleksi. Membiarkan sepeda-sepeda terparkir di dalam ruangan tidak akan banyak menyelesaikan persoalan. “Katakanlah, dengan mengendarai sepeda selama satu jam, kita akan mengurangi polusi selama satu jam pula. Nah, tinggal mengalikan saja kalau kegiatan itu dilakukan tiap hari,” ujarnya.

Selain Podjok, di Yogyakarta terdapat beberapa klub termasuk jenis sepeda sport seperti BMX. Mereka, antara lain, adalah Jogja Ontel Community (JOC), Generasi Onthel Club (GOC) Bantul, Bimbitama Bicycle Club (BBC), Onthel Clithikan Mangkubumi Club (OCMC), dan Biru Onthel Mania (BOM), hingga Jaringan Sepeda Hijau sejumlah universitas negeri dan swasta di Yogyakarta.

Masing-masing klub biasanya menggelar kegiatan rutin yang dilakukan setiap minggu.

Pada april 2005, di Yogyakarta juga terbentuk Forum Sepeda Jogja yang merupakan jaringan dari komunitas-komunitas bersepeda. Mereka juga mengeluarkan deklarasi bersamaan dengan pekan keselamatan transportasi (United Nation Global Safety Week). (Defri Werdiono)

sumber:
http://www2.kompas.com/ver1/metropolitan/0711/29/031922.htm
Kamis, 29 November 2007 – 03:19 wib


Cuma Dicuci, Ditawar Rp 3 Juta

February 6, 2009

Ditengah maraknya komunitas bersepeda seperti Bike To Work dan Mountain Biker, sepeda ontel atau sepeda antik tetap menjadi favorit beberapa warga Ibu Kota. Selain menjadi koleksi, barang bernilai tinggi dan bersejarah itu menjadi pilihan bertransportasi bagi kaum pehobi.

Jabrik, adalah salah satunya. kakek dua cucu ini bergabung dalam Komunitas Ontel Batavia (Koba), sebuah wadah pecinta sepeda ontel.  Organisasi ini turut serta dalam kegiatan “Aksi Hijau Senayan 2007”, Minggu (11/1).

Ketika bergabung di Koba pada tahun 2005, Jabrik tidak punya sepeda ontel. Tapi saat ini pria bernama asli Afiat Husni ini telah mengoleksi 26 sepeda tua.  Awalnya dia membeli sepeda  The Raleigh buatan Nottingham, Inggris tahun 1952 seharga  Rp 1 juta.

Pria  ini lantas mencuci sepeda itu di rumah. Saat sepeda itu dikayuh ke kawasan bundaran HI, seseorang menawar sepeda itu seharga Rp 3.000.000. Namun tawaran itu ditolaknya, dan sepeda itu pun masih dipakainya hingga kini. “Saya tidak mau jual sepeda, saya bukan pedagang,” katanya.

Hampir setiap hari, Pria yang mengaku gemar membaca Mesem Ye di harian Warta Kota ini mengayuh sepeda tuanya ke berbagai tempat. Kesehatan tubuhnya diakuinya didapat dari bersepeda. Beberapa tahun lalu, pria berjanggut panjang ini menderita kelumpuhan selama seminggu. Dia lantas berobat dengan metode akupunktur. Setelah kembali sehat dia lantas berlatih mengayuh sepeda di dalam rumah. “Siapa yang mau menjaga kesehatan selain diri kita sendiri?, Usia boleh tua tapi jangan nyusahin yang muda,” kata pria berusia 60-an tahun ini.

Namun mengayuh sepeda stationer dalam rumah membuatnya bosan, sehingga akhirnya dia memakai sepeda gunung untuk berolah raga. Saat bersepeda gunung lewat Bundaran HI, dia diledek oleh beberapa pesepeda ontel. Tak lama kemudian dia pun membeli sepeda ontel. Selain sepeda, warga kelurahan Sukabumi Selatan, Kebonjeruk, Jakarta Barat, ini juga mempunyai beberapa motor antik. Di antaranya BSA, Harley Davidson, Norton, Triumph dan lainnya.

Kolektor lima Harley ini menuturkan pengalamannya bersepeda di Bandung, Jawa Barat. Saat itu dia bersepeda ke Cimahi hingga Padalarang. “Tanjakannya luar biasa, teman-teman pada takut rantai putus. Tapi sepeda saya kuat, wong girnya sudah saya modifikasi jadi 18 speed,” katanya lagi.

Katanya, komunitas Koba selalu mengenakan pakaian adat saat berkumpul,  baik adat Jawa, Betawi, Madura, Bali, dan lainnya. Bahkan ada seorang anggota yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan koteka, pakaian adat Papua. Mereka juga mempunyai seragam kemeja colat mirip pejuang perang kemerdekaan RI, lengkap dengan atributnya. Menurut Jabrik, ciri khas Koba tersebut adalah sikap melestarikan jati diri bangsa. “Gaya kita ini menggambarkan orang yang merdeka, kita jangan terpengaruh kebudayaan asing,” ujarnya.

Koba didirikan pada 19 Agustus 2005 dan kini mempunyai sekitar 200 anggota aktif. Mulai dari kakek-kakek hingga anak muda berumur 20-an tahun. Organisasi ini  juga mendukung penuh kegiatan penanaman pohon dalam “Aksi Hijau Senayan 2007” kemarin. Menurut mereka, selain menanam pohon, bersepeda juga merupakan aksi kepedulian kepada lingkungan lantaran tidak menambah polusi udara.  (m1)

sumber:

http://www2.kompas.com/ver1/metropolitan/0711/12/050754.htm

Senin, 12 November 2007 – 05:07 wib


Penggemar Sepeda Onthel Bogor Konvoi

February 6, 2009

Bogor, Selasa–Setelah dipamerkan di Gelanggang Olah Raga (GOR) Pajajaran, Kota Bogor, Minggu (27/5), masih dalam rangkaian hari ulang tahun (HUT) atau Hari Jadi Bogor (HJB) ke 525 tahun 2007, ratusan sepeda “onthel”, yakni sepeda berusia lama, yang tahun pembuatannya mulai 1800 hingga 1960, akan mewarnai jalanan di Kota Bogor pada puncak hari “H” pada 3 Juni 2007.

Jurubicara Kantor Dinas Informasi, Kepariwisataan dan Kebudayaan Kota Bogor, Yamin M Saleh di Bogor, Selasa menjelaskan bahwa para penggemar sepeda “onthel” itu, rencananya pada 3 Juni nanti akan melakukan konvoi keliling di jalan-jalan utama, sehingga mengesankan suasana “tempoe doeloe”.

Ia menjelaskan, selain memamerkan sepeda, para penggemar sepeda kuno itu, dalam menyambut HJB ke-525 akan melakukan konvoi dengan rute yang sudah dirancang.

Rute itu adalah diawali di depan Tugu Kujang melalui Jalan Pajajaran, Warung Jambu, Jalan Ahmad Yani, Jalan Sudirman, Jalan Ir Juanda, Jalan Suryakencana kembali ke Jalan Pajajaran dan berakhir di lokasi semula, yakni Tugu Kujang.

“Tentu kita harapkan acara-acara semacam ini akan menggarirahkan kembali dunia pariwisata di Kota Bogor dengan nuasana ’tempoe doeloe’,” kata Yamin M Saleh.

Sementara itu, Ketua Buitenzorg Onthel Club (BOC) Nasti menjelaskan bahwa kegiatan pameran, juga diikuti para penggemar sepeda “lawas’ dari POI (Persatuan Onthel Indonesia).

Dalam pameran dimaksud, tidak kurang 110 sepeda onthel buatan tahun 1800-an hingga tahun 1960-an ditampilkan. Harga sepeda-sepeda tua itu, saat ini harganys berkisar antara Rp2 juta hingga Rp20 juta.

Sepeda yang dipamerkan di antaranya buatan Belanda, Jerman, Inggis dengan jenis sepeda “Harley Davidson”, “Gezele”, “Reality”, “Solingen”, “Simplex”, “Torpedo”, dan “Fonggers”.

“Semua sepeda yang dipamerkan merupakan milik penggemar sepeda kuno atau antik yang tergabung dalam Kelompok BOC dan POI,” katanya.

Penggemar sepeda onthel, kata dia, tersebar di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor Tangerang, Depok Dan Bekasi). Dalam konvoi nanti selain diikuti anggota BOC, juga akan diikuti oleh para penggemar sepeda yang tergabung dalam Komunitas Onthel Batavia (Koba) yang anggotanya dari Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Depok.

Ia menambahkan, partisipasi para penggemar sepeda kuno memeriahkan HJB ke525, sekaligus sebagai wujud dukungan terhadap kebjiakan pemerintah dalam penghematan energi.

Menurut dia, Walikota Bogor, Diani Budiarto belum lama ini berada di Kyoto, Jepang dan ke Markas Besar PBB New York Amerika Serikat untuk melakukan paparan soal lingkungan hidup, termasuk soal bagaimana mengurangi dampak pemanasan global.

“Nah, kami sebagai warga Bogor menunggu impelementasi dari paparan yang dilakukan Walikota Bogor yang peduli terhadap lingkungan, dan salah satunya adalah upaya penghematan energi itu,” katanya.

Nasti mengatakan, sepeda adalah kendaraan yang bebas polusi sehingga langkah penghematan energi dapat dilakukan dengan sarana itu. “Dengan berkendaraan sepeda di samping menyehatkan badan juga menghemat energi,” katanya.

http://www2.kompas.com/ver1/negeriku/0705/29/190416.htm

Selasa, 29 Mei 2007 – 19:04 wib


Sepeda Tua? Awas Rem Blong – KOMPAS CYBER MEDIA

February 6, 2009

JAKARTA, KCM – Jangan lupa mengecek rem, saat akan bepergian. Apalagi jika kendaraan sudah berumur. Hanya celaka yang akan Anda dapat. Hal ini dialami oleh sejumlah peserta funbike Aksi Hijau Senayan yang diadakan Kompas Gramedia, Minggu (11/11).

Fahmi Seimima dan teman-temannya yang tergabung dalam klub sepeda ontel Mpot-Mpotan, saat itu sedang menapaki jalan flyover Jalan Gerbang Pemuda. Begitu jalanan menurun, sebagian temannya jatuh bergelimpangan karena rem blong.

“Mereka memilih jatuh daripada harus menabrak orang atau mobil. Bisa panjang urusannya,” ujar Fahmi yang saat itu menggunakan pakaian adat Bali. Menurut dia, rem blong merupakan salah satu risiko yang harus ditanggung oleh pengendara sepeda tua seperti dirinya. Sepeda tua, memang butuh perawatan ekstra. Jadi, di samping rasa memiliki, diperlukan rasa cinta untuk merawatnya. (BOB)

sumber:

http://www2.kompas.com/ver1/hiburan/0711/11/125352.htm

jadi pengen liat fotonya kaya apa waktu bang Fahmi jatuh. hehehehe ditunggu!!!


Ritual Bersepeda Di Belanda

February 6, 2009

Oleh: Ir. Danny Lim, di Belanda

Bersepeda, sebuah ritual di Belanda

Bersepeda, sebuah ritual di Belanda

Selain Negeri Kincir Angin, Belanda kini mendapat julukan tambahan, yaitu Negeri Sepeda. Julukan baru ini muncul setelah Belanda tercatat sebagai negara dengan rasio populasi sepeda dan penduduknya tertinggi di Eropa. Sepeda sudah tak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Belanda, bahkan sejak mereka kanak-kanak.

Selain dikenal sebagai “Kota Gudeg”, Yogyakarta (dulu) juga terkenal sebagai “Kota Sepeda”. Di hampir semua penjuru kota itu kita bisa dengan mudah melihat orang naik sepeda. Tapi tahukah Anda, di seberang lautan sana ada sebuah “Negeri Sepeda” yang bernama Belanda? Bukan cuma di satu kota, tapi di seluruh Belanda orang naik sepeda. Murid sekolah, guru, ibu rumah tangga, manajer, bahkan menteri sekali pun naik sepeda.

Tercatat ada 18 juta sepeda di Belanda. Bila penduduk Belanda berjumlah 16,3 juta, maka ada 1.100 sepeda untuk 1.000 penduduk. Angka ini tertinggi di Eropa. Bandingkan dengan di Spanyol (231 sepeda untuk 1.000 penduduk) atau di Prancis (367 sepeda per 1.000 penduduk). Yang angkanya mendekati Belanda hanyalah Jerman, yaitu sekitar 900 sepeda per 1.000 penduduknya.

Kepemilikan sepeda di Belanda yang tinggi itu tampaknya sesuai dengan frekuensi pemakaiannya yang juga tinggi. Statistik menunjukkan, setiap penduduk Belanda rata-rata mengayuh sepedanya sejauh 1.019 km per tahun atau sekitar 16 miliar km untuk seluruh penduduk Belanda (16 juta jiwa). Bandingkan dengan di Spanyol yang cuma 24 km per tahun per penduduk. Maka tak salah kalau ada pernyataan, orang Belanda dan sepeda sudah seperti ikan dan air. Keduanya tidak bisa dipisahkan lagi.

Jadi mata pelajaran

Pilihan orang Belanda pada sepeda tak lepas dari sejumlah keunggulan yang dimiliki sepeda dan telah memadainya prasarana pendukungnya. Di antara keunggulan sepeda itu adalah harganya yang relatif murah, tidak mencemari udara, dan menyehatkan pengayuhnya. Kelemahan sepeda cuma terletak pada kecepatan dan jarak jangkau. Ia tidak bisa dipakai untuk keluar kota secara rutin.

Namun, problem “kecil” ini bukan halangan. Mereka naik kereta api dari satu kota ke kota lain, lalu menyewa sepeda di stasiun kereta api tujuan. Atau, membeli sepeda lipat dan naik kereta api sambil menenteng sepeda lipat itu. Atau, membeli dua unit sepeda untuk ditaruh di masing-masing kota. Mahasiswa atau karyawan yang tinggal di Kota Haarlem dan kuliah atau bekerja di Kota Leiden misalnya, setiap pagi mengayuh sepeda dari rumahnya ke stasiun kereta api Haarlem, memarkir sepeda pertamanya di sana, lalu naik kereta api ke Leiden.

Di stasiun kereta api Leiden sudah ada sepeda ke-2 yang diparkir di pelataran parkir stasiun. Dengan sepeda ke-2 itu sang mahasiswa atau karyawan mengayuh sepedanya ke kampus atau kantor. Sore hari mereka menjalani ritual yang sama, hanya terbalik arahnya. Karena jumlah mahasiswa atau karyawan yang kuliah atau bekerja di kota lain sangat banyak, maka merupakan pemandangan biasa apabila pelataran parkir sepeda di stasiun-stasiun kereta api di seluruh Belanda tampak seperti lautan sepeda.

Begitu populernya sepeda di mata orang Belanda, sampai-sampai sekolah dasar di Belanda mencantumkan “keterampilan bersepeda” sebagai salah satu mata pelajaran ekstrakurikuler. Beberapa kali dalam setahun murid-murid kelas 2 SD ke atas mendapat pelajaran teori lalu-lintas bersepeda. Termasuk dalam pelajaran itu di antaranya cara memberi tanda kalau mau membelok ke kiri atau ke kanan, memilih titik aman untuk berhenti di perempatan jalan, arti lampu merah-hijau pada lampu stopan sepeda, serta perlengkapan yang mesti dimiliki, seperti rem, bel, lampu depan dan belakang.

Pelajaran teori singkat itu ditutup dengan ujian teori dan keterampilan bersepeda. Halaman sekolah dijadikan arena ujian, dipasangi rambu-rambu lalu-lintas sederhana, lalu setiap murid diminta mengendarai sepedanya melewati rute yang telah ditentukan. Tujuan pelajaran bersepeda itu untuk mempersiapkan murid-murid bersepeda di jalan raya dengan aman.

Umumnya, setelah murid lulus ujian bersepeda, orangtuanya berani melepas sang anak pergi dan pulang sendiri ke atau dari sekolahnya. Seluruh proses pendidikan bersepeda dan ujiannya, didukung sepenuhnya oleh korps polisi lalu-lintas di kota atau desa masing-masing. Karena anak-anak Belanda sudah diperkenalkan dengan sepeda di usia dini, maka sepeda menjadi seperti “bahasa ibu” seluruh anak-anak Belanda, yang akan dibawanya sampai tua.

Meskipun pendidikan bersepeda sudah ketat, Lembaga Konsumen Belanda mencatat masih banyak kecelakaan bersepeda pada anak-anak dan remaja berusia antara 5 – 12 tahun. Tercatat 80% kecelakaan bukan karena tabrakan, tapi karena terjatuh sendiri dari sepedanya. Setiap tahun rata-rata 9.200 anak kecil dirawat di rumah sakit (7.000 di antaranya akibat terjatuh dari sepedanya, dan 1.200 anak lainnya kakinya masuk ke jari-jari sepeda). Yang luka karena menabrak tiang listrik, menyerempet trotoar, atau menabrak pagar tembok berjumlah sekitar 630 anak per tahun. Tercatat, penyebab kecelakaan sepeda itu umumnya adalah terlalu besar atau kecilnya ukuran sepeda buat si anak, atau ukuran sepedanya cocok tapi remnya blong.

Aman di jalur khusus

Selain untuk sekolah atau bekerja, ada 1.001 kegiatan bersepeda lain di Belanda. Di antaranya bersepeda makan bersama di restoran interkultur (gantian ke restoran Jepang, Cina, Yunani, Turki, Indonesia, Israel), bersepeda untuk berenang bersama di pantai, bersepeda sambil berkunjung ke industri keju rumahan di sebuah desa.

Setiap tahunnya di bulan Mei diselenggarakan Hari Sepeda Nasional yang rata-rata diikuti oleh sekitar 200.000 pengendara sepeda di seluruh negeri. Disediakan sekitar 440 rute cross country di seluruh negeri dengan jarak antara 15 – 50 km. Hari Sepeda Nasional itu merupakan jejaring kerja sama antara Nederlandse Bureau voor Toerisme dan seluruh pemda di Belanda.

Setiap tahun temanya berganti. Tahun 2005 misalnya, dipilih tema “Water”. Berdasarkan tema itu, semua rute yang dipilih melalui wilayah berair, seperti pantai, sungai, bendungan, dan lain-lain. Mulai tahun 2006 Hari Sepeda Nasional ditingkatkan menjadi Bulan Sepeda Nasional. Sebulan penuh di seluruh Belanda diselenggarakan kegiatan bersepeda bersama.

Untuk mendukung penggunaan sepeda oleh masyarakat, pemerintah Belanda telah membangun sekitar 22.000 km jalur sepeda di seluruh negeri. Jalur sepeda itu membentuk semacam jaringan sepeda yang kompak. Seorang pengemudi sepeda dapat mencapai suatu tempat di Belanda dengan sepedanya non-stop lewat jaringan jalur sepeda itu.

Ciri khas jalur sepeda adalah aspalnya berwarna merah dan di kedua ujung jalurnya ada papan lalu-lintas berwarna biru bergambar sepeda. Di aspalnya sendiri digambari sepeda setiap beberapa ratus meter. Mobil dan kendaraan non-sepeda tidak boleh melaju di jalur itu. Jalur sepeda yang memotong jalan yang padat mobil dibuat dalam bentuk terowongan di bawah, atau bentuk jembatan di atas jalan mobil. Keamanan pengendara sepeda kini terjamin sebab mereka tidak usah lagi menyeberangi jalan mobil.

Bentuk sepedanya sangat beragam, disesuaikan dengan fungsinya. Ada yang beli jadi di toko sepeda, ada pula yang pesan di bengkel karoseri sepeda. Kini di Belanda banyak bengkel sepeda yang menyediakan jasa pembuatan karoseri sepeda dengan model sesuai keinginan. Ayah, ibu, dan satu-dua anak, yang ingin naik satu sepeda pun bisa dibuatkan sepedanya.

Sepeda panjang seperti mobil Limousine itu pun punya empat sadel. Untuk bayi atau anak kecil, bisa dibuatkan boncengan khusus. Buat yang sering belanja banyak pun dapat dibuatkan sepeda komplet dengan keranjang besar untuk menaruh barang belanjaan. Harga sepeda pesanan itu berkisar E 750 – 1.500. Sedangkan harga sepeda yang biasa dijual di toko sepeda berkisar E 150 – 1.000.

Sayangnya, cukup banyak juga pencurian sepeda. Tercatat setiap tahunnya ada lebih dari 800.000 sepeda hilang dicuri orang. Sampai-sampai Technische Universiteit Delft merasa perlu menciptakan kunci sepeda yang aman. Rantai sepeda biasa gampang digunting oleh pencuri dalam waktu satu menit saja. Para pencuri sepeda tahu persis, di Belanda belum ada registrasi nasional terhadap sepeda yang dicuri, sehingga menemukan kembali sepeda yang hilang bak mencari sebuah jarum di padang pasir.

Untuk mengurangi kasus pencurian, menteri Dalam Negeri Belanda belum lama ini menyediakan program komputer yang akan mencatat semua laporan kehilangan sepeda di Belanda. Semoga, dengan pencatatan ini, masalah pencurian si roda dua itu bisa segera diatasi. ***

sumber:
http://www2.kompas.com/ver1/kesehatan/0609/11/232523.htm
Senin, 11 September 2006 – 23:25 wib