SOLO-JOGJA 100km (>120km) , 4-5 Juli 2009 (updated)

July 3, 2009

sabtu 4 juli 2009, Sepeda Onthel Lawas Solo [SOLO] bakal melakukan ritual ngonthel ke jogja.

rencana kami akan berkumpul dari dawung (jalan patimura 36, solo) berangkat dari solo pukul 4 sore, jadi malamnya kita pengen bisa menikmati suasana malam kota jogja dan ketemu dengan rekan2 onthelis jogja. semoga tidak ada halangan merintang.

amin…

REPORT 4-5 JULI 2009 SOLO – JOGJA

Sabtu, 16.30 kita berkumpul di salah satu markas Sepeda Onthel Lawas Solo, Dawung

isi bahan bakar dulu dan bersiap dari Dawung, Solo

Sebelum berangkat isi bahan bakar dulu dan bersiap dari Dawung, Solo

dan kemudian perjalanan dimulai dengan menuju karanga nom, dan melewati pakis sampai ke lampu merah pakis, klaten… di pakis kita menyempatkan diri untuk mampir di rumah pak soenaryo dengan sambutan teh hangat dan kue bikinan bu naryo…sambutan yang sangat hangat…dan sesampai di Pakis rombongan bertambah satu personil lagi mas Broto Laras yang memang rumahnya dekat daerah pos Pakis.

melintasi daerah persawahan di Tanjunganom, Baki  dan selanjutnya Pakis101_1456_resize

melintasi daerah persawahan di Tanjunganom, Baki dan selanjutnya Pakis

Perjalanan malam menuju Jogja sempat berhenti beberapa titik untuk sekedar sholat dan istirahat di Klaten dan Prambanan.

sampai juga di daerah janti untuk melanjutkan perjalanan ke km 0 jogja, markas teman-teman PODJOK nongkrong

sampai juga di daerah janti untuk melanjutkan perjalanan ke km 0 jogja, markas teman-teman PODJOK nongkrong

dan sekitar pukul 21.30 kami memasuki pusat kota jogjakarta, dan berkumpul bersama rekan-rekan PODJOK, dan PORY (Paguyuban Onthel Rabuk Yuswo)

kumpul bareng rekan-rekan othelis jogja di depan kantor pos

kumpul bareng rekan-rekan othelis jogja di depan kantor pos, diteruskan pengarahan acara pagi dari mas towil

eh, ada kang iwan KOBA juga

eh, ada kang iwan KOBA juga (sayang gambarnya blur)

menuju Jogjlo Jago rumah pak Gono, di wirasaban

melintasi plengkung gading, menuju Jogjlo Jago rumah pak Gono, di wirasaban

pagi hari di joglo jago, bersiap untuk keliling kota jogjakarta

pagi hari di joglo jago, bersiap untuk keliling kota jogjakarta

di pagelaran keraton jogjakarta, ketika berkumpul, berdoa, sebelum berjalannya acara ngonthel bareng di jogja

di pagelaran keraton jogjakarta, ketika berkumpul, berdoa, sebelum berjalannya acara ngonthel bareng di jogja

melintas di rektorat UGM

melintas di rektorat UGM

menjenguk pak didik, di Jogjakarta International Hospital, "teriiring doa, semoga lekas sembuh dan segera bergabung dengan kami untuk kembali bersepeda pak."

menjenguk pak didik, di Jogjakarta International Hospital, "teriiring doa, semoga lekas sembuh dan segera bergabung dengan kami untuk kembali bersepeda pak."

di embung tambak boyo

di embung tambak boyo

hehehehe, sebelum pulang ada sedikit masalah. fork pak heru patah, tapi ada bantuan datang dari rekan PODJOK. dan satu ban depan jadi rebutan

hehehehe, sebelum pulang ada sedikit masalah. fork pak heru patah, tapi ada bantuan datang dari rekan PODJOK. dan satu ban depan jadi rebutan. terima kasih dua onthelis berjenggot (mas Rustam PODJOK-dan mas Cecep SOLO) yang kompak buat ngoprek sepedanya

terima bongkar tidak terima pasang, marahan akibat rebutan ban depan (hehehe..becanda)

terima bongkar tidak terima pasang, marahan akibat rebutan ban depan (hehehe..becanda)

perjalanan pulang, semoga selamat sampai rumah

perjalanan pulang, semoga selamat sampai rumah

onthelis juga manusia, punya rasa capek, punya rasa kantuk....

onthelis juga manusia, punya rasa capek, punya rasa kantuk....

akhirnya kami sampai di rumah hari Minggu 5 Juli 2009 sekitar pukul 21.00 dengan selamat. Terima kasih kami ucapkan kepada Tuhan yang melindungi kami, rekan onthelis SOLO dan semuanya atas doa dan dukungannya, untuk mas Towil dan keluarga PODJOK atas sambutan hangatnya, untuk pak Gono atas Joglo Jago-nya, Miftah buat marshal-nya dari Janti sampai bandara. dan semuanya yang tidak bisa disebutkan satu-satu di sini. Kita siapkan betis kita untuk perjalanan berikutnya.

isi bahan bakar dulu dan bersiap dari Dawung, Solo
101_1438_resize

From Solo with Sepeda Onthel

May 30, 2009

oleh : Cisilia Perwita Setyorini pada 30-01-2009

Melawan pemanasan global dengan sepeda onthel! Itulah salah satu niat mulia komunitas Sepeda Onthel Lawas Solo (SOLO), sebuah komunitas pencinta sepeda tua yang didirikan Agustus tahun lalu.
Bergabung dalam komunitas tersebut sedikit banyak memang bisa mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Apalagi jika ngonthel dijadikan kebiasaan sehari-hari, implikasinya cukup berarti dalam mengurangi suhu panas bumi.
Dalam rangka menyambut kunjungan Paguyuban Onthel Djokdja (Podjok) dan untuk mengakrabkan antaranggota, komunitas SOLO pada Sabtu-Minggu (24-25/1) lalu menggelar acara berkeliling Kota Solo dengan tak lupa berwisata kuliner.
Sekitar 150 komunitas pencinta sepeda kuno ngonthel menuju Kompleks Manahan menikmati sarapan sederhana dengan alunan musik siteran. Kemudian ke Taman Balekambang  Menikmati taman yang asri sembari memanggil menjangan di taman dengan sebutan Gazelle.

Perjalanan dilanjutkan ke Taman kota Monumen 45 Banjarsari yang semula adalah Villa Park Belanda yang terletak di dekat Stasiun Balapan Solo, Pasar Legi, Mangkunegaran, Kestalan dan Stabelan. Tempat yang sangat erat kaitan dalam perjalanan sejarah di Kota Bengawan.

Dari sekian onthelis (pengguna sepeda onthel) ada satu yang menjadi perhatian lantaran memodifikasi sepedanya dengan berbagai pernak-pernik yang kental dengan nilai tradisi. Dia bernama Ngamin asal Madiun. Di sepedanya tergantung beberapa klunthung sapi dan juga bel dor yang biasa ada pada dokar. “Sepeda saya modifikasi supaya kental dengan nilai etnik tradisinya,“ ucap Ngamin yang ngonthel dari Madiun sampai Solo selama 12 jam.

Sementara itu, Dian ABS, Ketua SOLO mengatakan tujuan dari dibentuknya komunitas ini salah satunya adalah untuk menyikapi global warming. “Juga untuk mengampanyekan sepeda di masyarakat, menikmati romantisme klangenan masa lalu.”

Dian menambahkan untuk menjadi anggota komunitas ini cukup mudah tidak harus memiliki sepeda onthel tetapi harus suka dengan sepeda onthel dan concern dengan budaya.

Sementara itu salah satu anggota SOLO menuturkan keinginannya masuk dalam komunitas ini lantaran kecintaannya pada sepeda onthel lawas. “Dari dulu memang suka dengan sepeda kebo. Karena nyaman, santai dan tidak terlalu cepat dan juga lebih bersahabat dengan lingkungan.” (Cisilia Perwita Setyorini)

 

 

sumber:

http://harianjoglosemar.com/index.php?option=com_content&task=view&id=32893

berita terkait:

http://podjok.com/index.php/2009/01/26/liputan-podjok-wisata-onthel-solo-2009/