17 februari 2013, gowes kebak kramat

March 10, 2013

This slideshow requires JavaScript.

Akhirnya setelah sekian bulan susah sekali log in wordpress, bisa masuk juga :p. update dulu berita yang tertunda beberapa waktu lalu.

17 Februari 2013 lalu Sepeda Onthel Lawas Solo bersepeda ke Kebak Kramat, menghadiri tasyakuran 1 tahun komunitas Maeso Kencono. jamuan yang menyegarkan bersepeda berkeliling seputaran Kebak Kramat. Dihadiri beberapa komunitas dari Solo, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, menjadikan acara tersebut cukup meriah. Track yang dipilih juga sedemikian menarik, melintasi persawahan yang cukup segar di mata. Kebetulan sedang dipenuhi padi yang menghijau dan belum dipanen. Membuat jarak yang ditempuh selama kurang lebih satu setengah jam tidak terasa melelahkan.

Semoga tetap bersemangat untuk tetep bersepeda, makin rame dan gayeng.

Berikut beberapa rekaman lensa di acara tersebut.


anak dewa, ber KTP Solo

March 21, 2012
Image

hercules 01

Image

hercules 02 emblem depan

Image

hercules 03

Image

hercules 04 emblem belakang

Image

hercules 05 nomor rangka AC1066??

Image

hercules 06 anak kunci

Image

hercules 07 supitan belakang

Image

hercules 08 pedal

Image

hercules 09 3 speed

setelah sekian waktu tersembunyi diantara riuh opini apakah hercules ini dibuat di inggris atau di malabar (india) ada fakta yang memang begini adanya, mungkin rekan-rekan di sini jutru akan lebih bisa menjelaskan bagaimana mengenai hercules 24″ di atas. sebuah sepeda dengan petunjuk toko Tik Swie Hien dari Pasar Besar Solo 18.

photo by boocan.


esok hari, haruskah kita pergi jauh untuk belajar???

September 24, 2011

memang tulisan ini saya sekedar copy paste dari tulisan yang diposting seorang kawan…
tapi perlu kita renungkan… sebelum semua terlambat… atau memang inikah kita??? yang hanya memikirkan hari ini, lalu bagaimana tentang esok hari??? silakan untuk mengcopy, re-post tulisan ini….

pit kebo memang punya daya tarik layaknya magnet. Bak barang antik pit kebo terus dan terus diburu baik untuk moda transportasi, koleksi, klangenan atau sebagai komoditi perdagangan.
Tidak bisa dipungkiri, pit kebo mempunyai sejarah yg panjang di negri ini, mulai di jaman penjajahan, pergerakan, kemerdekaan, orla, orba, hingga jaman reformasi skrg ini. Sebagai bagian dari sejarah pit kebo punya “hak” menjadi benda cagar budaya layaknya kraton, Loji Gandrung, Masjid Agung, Radya Pustaka, Mangkunegaran, Bank Indonesia dll.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pit kebo dijual ke luar negri. Memang tidak ada larangan akan hal tersebut. Layaknya hukum dagang “ada permintaan pasti ada penawaran dan diikuti ada transaksi. Ekspor pit kebo memang menjanjikan keuntungan yg signifikan, sampai kapan?sampai pit kebo habis di negeri ini?sampai anak cucu kita hanya bisa mendengar pit kebo dari dongeng pengantar tidur tanpa mereka bisa mencolek, meraba kemudian menaiki dan dionthel? atau mereka tahu dari browsing lewat PC atau smartphone?atau ketika menyusun desertasi harus ke luar negri dulu sekedar mengamati pit kebo?
Bolehlah menganggap ekspor pit kebo sebagai isyu, tapi apakah rela kejadian-kejadian buruk masa lalu terulang lagi hingga mencoreng nama baik?
Lantas, siapakah yang patut menjaga kelestarian pit kebo?

(tulisan ini hanya sekedarnya aja laiknya coretan dinding yg setengah org nganggep vandalis)